Lockdown di China Merembet Sampai ke Eropa, RI Aman?

News - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
07 May 2022 08:45
Pekerja mengirim tabung oksigen di luar rumah sakit selama penguncian di tengah pandemi penyakit coronavirus (COVID-19), di Shanghai, China, Kamis (14/4/2022). (REUTERS/Aly Song)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akibat kasus Covid-19, China melakukan lockdown di beberapa wilayah, termasuk Shanghai dan Beijing. Namun ternyata lockdown tersebut berpengaruh bukan hanya di China saja, melainkan hingga ke wilayah Eropa.

CNBC Internasional melaporkan hampir 60% bisnis Eropa di negara itu akhirnya memotong proyeksi pendapatan 2022. Menurut survei yang dilakukan Kamar Dagang Uni Eropa di China, penyebabnya adalah karena kendali yang dilakukan akibat Covid-19.

Mereka memutuskan pemotongan tersebut berkisar 6% hingga 15%, dikutip Sabtu (7/5/2022).


Sementara pada bisnis China, survei bulanan menunjukan sentimen di antara bisnis manufaktur dan jasa turun ke level terendah pada April. Ini terjadi pertama kalinya sejak pandemi pertama kali menyerang pada Februari 20220.

Pada survei tersebut terlihat kontraksi lebih lanjut pada aktivitas bisnis terjadi pada bulan Maret lalu.

PMI layanan Caixin menunjukkan penurunan 36,2 pda bulan April. Jauh dari garis bawah 50 yang menunjukkan kontraksi atau ekspansi.

Ekspektasi untuk output pada masa depan memang ada sedikit peningkatan. Namun juga ada kekhawatiran mengenai jangka waktu yang dibutuhkan untuk bisa menahan virus dan mengembalikan bisnis ke kondisi yang lebih luas.

Data lain juga menunjukkan dampak dari pembatasan kegiatan tersebut. Kepala ekonom Macquarie di China, Larry Hu mengatakan ada pelambatan peningkatan pembangkit listrik di bulan Maret.

Selain itu, lockdown juga tidak bisa membuat masyarakat membeli properti real estat. Penjualan pada 30 kota teratas anjlok hingga 54% pada April dibandingkan dengan tahun lalu.

Starbucks juga menjadi bisnis yang terdampak. Dilaporkan 72% dari 225 kota di China yang terdapat tokonya mengalami wabah Omicron. Raksasa kopi itu memiliki 5.600 toko di seluruh negeri dan merupakan pasar terbesar kedua dunia.

Kepala Starbucks China, Belinda Wong menyebutkan kebanyakan tokonya masih bisa beroperasi dengan menerapkan protokol keselamatan yang ketat. Sementara sepertiga toko Starbucks akhirnya ditutup sementara atau hanya melayani pesan antar atau bawa pulang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waduh! Jelang Olimpiade, Beijing Malah Diserbu Omicron


(Intan Rakhmayanti Dewi/dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading