Warga China Tiba-tiba Kabur 'Berjamaah', Ada Apa Nih?

News - Eqqi Syahputra, CNBC Indonesia
19 June 2022 12:15
Seorang pekerja dengan pakaian pelindung membawa kotak styrofoam di jalan, setelah penguncian yang dilakukan untuk mengekang wabah penyakit coronavirus (COVID-19) dicabut di Shanghai, Cina. (REUTERS/ALY SONG)

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara China dilanda dengan kejadian yang tidak biasa belakangan ini. Pasalnya, sejumlah masyarakat kelas menengah China memutuskan untuk kabur dan pergi meninggalkan negaranya sendiri.

Tren ini terlihat dari data konsultan imigrasi yang berbasis di Beijing. Lalu, apa alasan mereka meninggalkan tanah kelahiran mereka?

Salah satu warga Beijing bernama Alan Li (nama samaran) mengaku sudah tak bisa melihat masa depannya lagi ada di China. Ia memutuskan untuk kabur dari China karena kebijakan Covid-19 yang menurutnya menghancurkan bisnis dan hidup seluruh keluarganya.


Dalam pengakuannya, ia mengatakan berencana pindah ke Hungaria. Ia yakin lebih melihat peluang di sana.

"Kehilangan yang kami rasakan tahun ini berarti semua sudah musnah," ujarnya.

"Kami telah menggunakan tabungan tunai sendiri untuk membayar 400 pekerja kami [selama lockdown]. Bagaimana jika itu terjadi lagi musim dingin ini?"

Hal sama juga dikatakan seorang mahasiswi berusia 20 tahun, sebagaimana dimuat laman yang sama. Beberapa, kata dia, kecewa dengan kontrol Beijing yang makin meningkat, selama pandemi.

"Kebijakan virus telah memungkinkan pemerintah untuk mengontrol dan memantau semuanya ... Mungkin daripada menerima dan beradaptasi dengan sistem ini, kita harus pergi ke tempat lain dan menciptakan kehidupan baru," terangnya.

Pemerintah China sendiri belum memberi tanggapan soal berita ini. Namun data AFP menyebut, pemerintah telah memperketat kebijakan keluar negeri. Pada paruh pertama tahun 2021, otoritas imigrasi hanya mengeluarkan 2% dari paspor yang diberikan pada periode yang sama tahun 2019.

Untuk diketahui, mengutip Worldometers, saat ini ditemukan 949 kasus Covid-19 aktif di China. Shanghai dan Beijing masih menjadi hotspot. Di Beijing, kasus kini menjadi perhatian khusus. Klaster Covid-19 yang ditemukan di sebuah bar, tempat total infeksi sudah mencapai 300 lebih orang sejak kasus ditemukan pertama kali.

Pemerintah pun melakukan pengujian pada sejumlah wilayah penyebaran. Bahkan sejak Minggu dikabarkan sejumlah bangunan dikunci (lockdown).

"Saat ini, risiko penyebaran lebih lanjut masih ada. Tugas paling mendesak saat ini adalah melacak sumber klaster dan juga mengelola dan mengendalikan risiko," kata juru bicara pemerintah kota Beijing, Xu Hejian seperti dikutip Channel News Asia (CNA).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Terus 'Meledak', Kasus Covid-19 di Jakarta Bertambah 1.155


(dem)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading