Internasional

Eropa Waswas, Embargo Migas Rusia Jadi "Senjata Makan Tuan"

News - Feri Sandria, CNBC Indonesia
25 April 2022 12:30
Russian President Vladimir Putin gestures speaking during a joint news conference with German Chancellor Olaf Scholz following their talks in the Kremlin in Moscow, Russia, Tuesday, Feb. 15, 2022. Putin says Moscow is ready for security talks with the U.S. and NATO, as the Russian military announced a partial troop withdrawal from drills near Ukraine — new signs that may suggest a Russian invasion of its neighbor isn't imminent despite snowballing Western fears. (Sergey Guneev, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sanksi Barat berupa embargo minyak dan gas dari Rusia memang dapat dengan cepat memangkas pendapatan Rusia secara telak. Akan tetapi, hantaman yang sama juga dirasakan oleh negara-negara Eropa.

Para pemimpin Benua Biru secara terbuka mengakui ketergantungan mereka pada pasokan energi Rusia. Salah satunya Jerman. 


Pekan lalu, bank sentral Jerman memperingatkan bahwa penghentian tiba-tiba impor gas dari Rusia dapat menyebabkan jatuhnya output ekonomi Jerman. Ini juga menyebabkan melonjaknya inflasi.

The Deutsche Bundesbank memperingatkan akhir pekan lalu bahwa embargo gas alam Rusia dapat menyebabkan ekonomi Jerman turun 5% dari target yang diharapkan tahun ini. Hal tersebut berpotensi mendorong Jerman ke dalam resesi sembari ikut mendorong harga konsumen yang juga telah naik signifikan.

Bundesbank pun menyebut dampak ekonomi Jerman dari penghentian pembelian minyak, gas, dan batu bara Rusia dapat menelan biaya 180 miliar euro (US$ 195 miliar). Ini setara dengan Rp 2.798 triliun (asumsi kurs Rp 14.350/US$).

Bank sentral Jerman itu mengatakan prediksi tersebut memiliki ketidakpastian yang cukup tinggi, mengingat kondisi krisis yang tidak mudah ditakar terkait invasi Rusia ke Ukraina. Tetapi model ekonominya menunjukkan bahwa penghentian gas alam Rusia, yang sebelum perang menyumbang 55% dari pasokan Jerman, akan menyebabkan produk domestik bruto (PDB) tahun ini menyusut 2%.

"Bukannya tumbuh 3% seperti yang diprediksi sebelumnya," ujar The Deutsche Bundesbank dalam laporannya, dikutip Senin.

Bundesbank juga memperingatkan bahwa kebutuhan untuk menemukan sumber energi pengganti akan mendorong laju inflasi. Kenaikan harga akan bertambah lebih dari 1,5% secara persentase poin untuk indeks harga konsumen (IHK) tahun ini dan lebih dari 2% untuk tahun depan.

Bukan hanya Jerman yang "teriak". Eropa pun demikian.

Minggu lalu, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) juga turut memperingatkan bahwa perang di Ukraina akan menyeret turun ekonomi zona euro. IMF menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi menjadi 2,8% dari diprediksi pada Januari sebesar 3,9%.

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet L. Yellen juga menilai bahwa larangan impor gas Rusia dapat memiliki efek "berlawanan" dan merugikan benua itu lebih parah dari Rusia. Terutama karena harga bahan bakar global meroket.

"Eropa jelas perlu mengurangi ketergantungannya pada Rusia sehubungan dengan energi," kata Yellen kepada wartawan di Washington pada Kamis, dilansir The New York Times.

"Jadi memang kita harus berhati-hati saat memikirkan larangan (ekspor) Eropa sepenuhnya."

Halaman 2>>

Waswasnya Pemimpin Eropa
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading