Kacau! Stok Gula Menipis Mau Puasa, ini Efek Bahayanya

News - Damiana Cut Emeria, CNBC Indonesia
23 March 2022 07:00
Petugas gudang gula sugar (konsumsi) mendata pasokan gula yang akan dikirim ke berbagai daerah ke seluruh Indonesia di Pelabuhan Tanjung Priok, Senin (23/11/2020). Dalam sehari bisa mengirim 250 ton gula sugar dengan kapasitas 10 truk angkut. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) 

Pemerintah dan dunia usaha masih menghitung angka pasti stok nasional pada akhir 2020 yang menjadi dasar penentuan rencana pemenuhan kebutuhan gula pada 2021. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah diminta segera mendesak pemilik izin impor gula mentah (raw sugar) untuk konsumsi segera merealisasikan importasi. Pasalnya, saat ini stok gula di dalam negeri dikabarkan menipis, padahal dalam hitungan pekan sudah memasuki masa Puasa dan Lebaran.

Dimana, pada periode ini, konsumsi gula di dalam negeri biasanya diprediksi akan meningkat sekitar 10-15% dibandingkan bulan-bulan biasa. Sementara, saat ini harga gula di dalam negeri menunjukkan tren kenaikan terus berlanjut.

Padahal, kata Ketua Umum Ikatan Ahli Gula (Ikagi) Aris Toharisman, stok di dalam negeri terbatas. Sementara, musim giling pertama tahun ini diprediksi sedikit mundur akibat cuaca.


"Kalau memang pabrik gula (PG) swasta tidak sanggup merealisasikan impor segera, pemerintah alihkan saja alokasi impor itu ke gula kristal putih (GKP) dan berikan ke BUMN atau PTPN Holding. Karena ini kondisinya sangat urgent," kata Aris kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/3/2022).

Dia mengatakan, dengan mengalihkan izin impor jadi GKP untuk konsumsi, importir tidak perlu lagi harus mengolah raw sugar terlebih dahulu. Tapi, bisa langsung dilepas ke pasar konsumsi.

"Proses importasi itu butuh sekitar 1 bulan sampai barangnya masuk di pelabuhan kita. Belum lagi harus diolah lagi. Kalau dialihkan ke GKP, saya rasa 1-2 minggu, begitu ada barang bisa langsung terealisasi. BUMN atau PTPN Holding sanggup. Bisa dari Thailand atau India. Barang juga kan sudah banyak di trader," ujarnya.

Mengutip paparan Menteri Pertanian (Mentan) saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Selasa (22/3/2022), pada awal tahun 2022 ada stok gula sebanyak 744.208 ton, dengan estimasi konsumsi bulanan 297.048 ton.

Produksi dalam negeri diprediksi mencapai 246.418 ton sementara realisasi impor per Januari 2022 adalah 200.600 ton.

Tercatat ada 841.033 ton gula dalam rencana impor.

"Iya, sebagian impor sudah terealisasi. Tapi stok masih terbatas. Karena itu, misalnya Lebaran butuh pasokan 250 ribu kg, ini saja dulu dialihkan dari izin raw sugar ke GKP, berikan ke BUMN. Saya rasa petani juga tidak akan protes karena ini bukan menambah impor. Melainkan mengalihkan kuota dari neraca yang ada," kata Aris.

Langkah ini, ujarnya, juga lebih aman dari pada ketika terdesak, pemerintah lalu menugaskan PG rafinasi melepaskan produknya ke pasar.

"Secara psikologis ini nggak bagus bagi petani yang akan masuk giling. Dan, tidak ada yang bisa jamin dan mengendalikan. Nanti banjir di pasar," imbuh dia.

Pemilik izin impor raw sugar, ujarnya, kemungkinan menunggu harga gula turun. Sambil menunggu musim giling sehingga bisa digiling bersamaan dengan tebu nantinya.

"Padahal, kalau pun harga internasionalnya 20 sen dolar AS per pon, harga lelang dari pabrik Rp12.500 per kg, masih bisa untung. Sementara, saat ini ongkos freight juga naik terus dan insurance juga sepertinya akan naik juga. Seharusnya mereka tidak perlu menunggu dan ini momen yang baik," katanya.

Mendekati bulan puasa tahun 2022, harga gula di dalam negeri terus naik. Pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS) nasional mencatat, harga rata-rata gula nasional pada Selasa, 22 Maret 2022 naik menjadi Rp14.500 per kg untuk gula pasir lokal dan Rp15.600 per kg untuk gula pasir premium.

Sementara, harga gula internasional kembali naik setelah sempat melandai. Mengutip tradingeconomics, harga pada perdagangan Selasa, 22 Maret 2022, harga bergerak di rentang 19,2 sen dolar AS per pon.

Gula Brasil

Sementara itu, tradingeconomics mencatat, harga gula kembali ke tren naik menyusul langkah Brasil yang mengalihkan produksi tebunya ke ethanol. Menyusul gejolak harga minyak mentah dunia akibat perang Rusia-Ukraina.

"Switching (pengalihan) ini biasa di Brasil. Tapi produksi gula mereka banyak dan nggak semua jadi ethanol, tergantung kebijakan blendednya saja. Dan itu hanya fokus konsumsi domestiknya saja, tidak akan mengganggu pasokan ekspor," ujar dia.

Hanya saja, lanjut Aris, kondisi itu bisa mempengaruhi psikologis harga gula di pasar internasional.

Indonesia, lanjutnya, mengimpor sebagian besar kebutuhan gula dari Thailand. Disusul Thailand, India, dan Australia.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Siap-Siap RI Bakal Diserbu Gula Impor, Bahaya?


(dce/dce)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading