Dunia 'Kecanduan' Barang Rusia!

News - Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
04 March 2022 13:49
FILE - In this March 28, 2014 file photo, a Russian national flag flies on a hilltop near the city of Bakhchysarai, Crimea. The Group of Seven major industrialized countries on Thursday March 18, 2021, issued a strong condemnation of what it called Russia's ongoing “occupation” of the Crimean Peninsula, seven years after Moscow annexed it from Ukraine. (AP Photo/Pavel Golovkin, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia tengah diancam berbagai sanksi ekonomi oleh dunia barat atas aksinya di Ukraina. Salah satunya dengan upaya untuk menendang Rusia dari jejaring informasi perbankan internasional yang dikenal sebagai SWIFT.

Sanksi ini diperkirakan akan membuat ekspor hasil alam Rusia terganggu seperti minyak dan gas. Alexandra Vacroux Direktur Eksekutif di Davis Center for Russian and Eurasian Studies di Harvard University mengatakan bahwa Rusia sangat bergantung pada ekspor migas dalam transaksi keuangan internasional.

Sehingga dengan 'menendang' Rusia dari SWIFT akan berdampak pada sulitnya ekspor migas dari Rusia ke dunia dan selama ini pendapatan negara Rusia berasal dari ekspor migas. Oleh sebab itu akan semakin sulit juga pemerintahnya untuk mendanai anggaran jika ekspor migas drop.


Jika sanksi itu diberlakukan pasokan dunia dapat terganggu karena peran Rusia dalam memenuhi kebutuhan komoditas dunia terbilang strategis.

Masalahnya, Rusia tak hanya menjadi raja migas. Rusia merupakan produsen sekaligus pengekspor utama beberapa komoditas dunia yang memiliki peranan penting bagi kehidupan dunia. Seperti energi, mineral, dan pangan. Sehingga saat komoditas Rusia tidak dapat diekspor, akan ada guncangan pasokan di beberapa komoditas, di mana Rusia menjadi pemasok utama.

Berikut Tim Riset CNBC Indonesia telah menghimpun komoditas yang jadi keunggulan Rusia di dunia:

Gas Alam

Rusia adalah raja gas alam dunia. Jika Rusia tidak bisa memenuhi kebutuhan dunia akan gas akibat perang, maka pasokan dunia bisa langka. Sebab Rusia memegang peran strategis terhadap ketersediaan migas dunia.

Menurut BP Statistics Review, seperempat lebih kebutuhan gas dunia dipasok oleh Rusia. Tepatnya, Rusia memiliki 26,2% pangsa ekspor di seluruh dunia dengan jumlah 197,7 miliar meter kubik.

Rusia adalah produsen gas alam terbesar kedua di dunia dengan kontribusi mencapai 16,6% produksi gas alam pada tahun 2020 dengan jumlah 638,5 miliar meter kubik. Cadangannya mencapai 1.320,5 miliar meter kubik, setara dengan 19,9% cadangan dunia.

Gas Rusia banyak mengalir ke Eropa dengan besaran 167,7 miliar meter kubik pada tahun 2020. Jumlah ini setara 37,5% total impor gas alam Eropa.

Minyak Mentah

Sementara itu, Rusia adalah negara nomor empat eksportir terbesar minyak mentah di dunia dengan pangsa pasar 11,4% terhadap total pasokan minyak dengan rata-rata ekspor 8 juta barel per hari (bph) selama sepuluh tahun terakhir, mengutip data BP Statistic.

Paling banyak ekspor minyak Rusia ke Eropa. Besarannya adalah 138,2 juta ton pada tahun 2020. Jumlah ini setara 29% total impor minyak Eropa yaitu 475,9 juta ton setahun.

Produksi minyak Rusia mencapai 10,7 juta bph atau setara 12,1% produksi dunia. Jumlah ini menempatkan Rusia duduk di peringkat 3 produsen minyak mentah dunia terbesar. Sedangkan cadangan terbukti minyak mentah Rusia mencapai 107,8 juta barel.

Batu Bara

Rusia merupakan eksportir terbesar nomor tiga dunia setelah Indonesia dan Australia. Pada tahun 2019, ekspor Rusia mencapai217 juta ton. Jika pasokan dari Rusia berhenti akibat perang, dunia akan kehilangan 17,8% pasokannya.

Pelanggan Rusia pun tak main-main karena berasal dari negara 'pecandu' batu bara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India. China mengimpor 15,25 juta ton atau 4,72% dari total impor batu bara dari Rusia pada tahun 2021, menurut data bea cukai.

Kemudian, Rusia adalah pemasok batu bara termal terbesar kedua di Jepang. Pada tahun 2021 Rusia menyumbang 12,48% menurut data bea cukai Jepang.

Rusia pemasok batu bara terbesar kedua ke Korea Selatan pada tahun 2021 setelah Australia, mengirimkan 21,95 juta ton senilai sekitar $2,56 miliar dan menyumbang 17,5% dari total impor batu bara Korea Selatan.

India sebagai konsumen batubara dunia terbesar nomor dua pun mengimpor batu bara dari Rusia. Porsinya mencapai 1,3% dari total impor batu bara nasional.

HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading