Harga Gas Meroket 114%, Eropa Terancam Gelap Gulita!

Market - Robertus Andrianto & Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
04 March 2022 10:01
A general view of the CF industries plant in Billingham, Britain September 22, 2021. Picture taken with a drone. REUTERS/Lee Smith

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga gas Eropa meroket sepanjang 2022 seiring dengan sanksi internasional untuk Rusia.

Kemarin, harga gas Eropa acuan Belanda tercatat Euro 148,5/megawatt hour, turun 9,1% dibandingkan posisi kemarin. Akan tetapi, sepanjang tahun 2022 harga gas Eropa telah meroket 114,49%. 


Hal ini disebabkan kecemasan para pelaku pasar atas sanksi yang diterapkan oleh dunia barat terhadap Rusia dapat mempengaruhi pasokan gas di Eropa. Rusia membantah menggunakan gas sebagai senjata. Gazprom, perusahaan gas milik negara Rusia, mengatakan telah memenuhi semua kontrak jangka panjangnya dan telah dikonfirmasi oleh klien. Ini mungkin akan meredakan sentimen hanya untuk sementara.

Sanksi yang dicermati oleh para pelaku pasar adalah upaya untuk menendang Rusia dari jejaring informasi perbankan internasional yang dikenal sebagai SWIFT. Alexandra Vacroux Direktur Eksekutif di Davis Center for Russian and Eurasian Studies di Harvard University mengatakan bahwa Rusia sangat bergantung pada ekspor migas dalam transaksi keuangan internasional. Sehingga dengan "menendang" Rusia dari SWIFT akan berdampak pada sulitnya ekspor migas dari Rusia ke dunia dan selama ini pendapatan negara Rusia berasal dari ekspor migas.

Masalahnya ketergantungan Eropa terhadap pasokan gas dari Rusia sangat tinggi. Gas Rusia banyak mengalir ke Eropa dengan besaran 167,7 miliar meter kubik pada tahun 2020. Jumlah ini setara 37,5% total impor gas alam Eropa.

Investor menjadi cemas aliran gas Rusia ke Eropa akan macet. Hal ini yang membuat gas alam Eropa saat ini meroket dan berpotensi untuk berlanjut.

"Situasi geopolitik yang sangat tidak terduga dan risiko eskalasi lebih lanjut dan sanksi baru kemungkinan akan mendukung harga lebih lanjut," kata analis di Refinitiv dalam laporan pagi.

Menurut kabar, Uni Eropa sedang mempertimbangkan untuk melarang kapal Rusia dari pelabuhan. Ini akan menjadi sentimen yang kuat untuk harga gas, tambah mereka. Selain itu risiko kerusakan pipa minyak dan gas di Ukraina karena perang yang sedang berlangsung masih tinggi.

Jika harga gas tetap melambung, krisis energi di Eropa bisa terjadi. Sebab sumber energi Eropa saat ini banyak berasal dari gas alam dan mulai meninggalkan energi fosil, terutama untuk pembangkit listrik dan kebutuhan rumah tangga.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Hadapi Musim Dingin & Pasokan Ketat di China, Harga Gas Naik


(ras/ras)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading