Internasional

Drakor & Kpop Minggir Dulu! Ini Potensi Industri Baru Korsel

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
31 January 2022 22:00
Warga Korea Selatan membawa obor dan bendera nasional ketika mereka berbaris di jalan selama upacara peragaan ulang Hari Gerakan Kemerdekaan Pertama Maret, peringatan pemberontakan 1919 melawan pemerintahan kolonial Jepang, di Cheonan, Korea Selatan, Kamis, 28 Februari, 2019. (AP / Lee Jin-man)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan berkembangnya teknologi, hal-hal tradisional mulai banyak ditinggalkan. Salah satu contohnya adalah tidak sedikit orang yang beralih membaca buku, manga atau komik melalui ponsel pintar atau smartphone.

Di Korea Selatan (Korsel), banyak perusahaan yang berlomba-lomba memimpin transformasi digital industri webtoon atau komik digital tersebut. Hampir menggeser pasar manga Jepang yang hingga kini masih menjadi terbesar di dunia sejauh ini.

Perusahaan teknologi Korsel, termasuk Kakao dan Naver, menguasai lebih dari 70% pasar manga digital Jepang pada tahun 2021, menurut buku putih Badan Konten Kreatif Korea (KOCCA) yang dirilis tahun itu.


KOCCA mengatakan meski komik atau manga fisik tetap populer, penjualan digital berhasil mengambil alih pangsa pasar terbesar tahun lalu. Ini diperkirakan tumbuh lebih dari 80% pada tahun 2025 mendatang.

Salah satu contohnya adalah Piccoma, layanan berlangganan manga digital. Kakao Piccoma, sang pengembang, adalah anak perusahaan raksasa teknologi Korsel Kakao, perusahaan di balik aplikasi perpesanan paling populer di Negeri Ginseng.

Piccoma berhasil menarik lebih banyak pendapatan pada tahun 2021 daripada aplikasi non-game lainnya, kecuali TikTok dan YouTube, menurut perusahaan intelijen pasar Sensor Tower. Keberhasilan Piccoma juga semakin luar biasa karena layanan ini hanya tersedia di Jepang.

Pada Oktober, kurang dari enam tahun setelah diluncurkan pada tahun 2016, aplikasi ini melewati US$ 1 miliar dalam akumulasi transaksi. Ini suatu prestasi yang dicapai oleh hanya 15 aplikasi non-game di seluruh dunia.

KOCCA mengatakan pasar webtoon Korsel tumbuh lebih dari 64% pada tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya, melampaui pencapaian satu triliun won (US$ 840 juta).

Sama seperti industri budaya Korsel lainnya, webtoon semakin mencari ke luar negeri untuk menemukan kesuksesan.

Lee Jae-sik, seorang veteran industri dan pendiri perusahaan produksi webtoon Korea C&C Revolution, mengatakan sekitar 65% pendapatan perusahaannya sekarang berasal dari pasar luar negeri. Sementara data KOCCA memaparkan rata-rata industri kurang dari 30% pendapatan dari luar negeri meningkat dan kemungkinan akan terus berlanjut.

Pasar komik global pada tahun 2020 diperkirakan bernilai US$ 11 miliar, sekitar seperempat dari nilai industri film atau musik di era pra-pandemi, menurut KOCCA. Beberapa orang dalam industri berpendapat webtoon memiliki potensi untuk tumbuh jauh melampaui apa pun yang dicapai oleh pasar komik tradisional.

Asal Mula Industri Webtoon

Benih-benih revolusi industri digital Korsel dapat ditemukan pada runtuhnya industri buku komik fisik di akhir tahun 90-an.

Krisis keuangan Asia 1997 memberikan pukulan telak bagi sektor ini karena penjualan anjlok di tengah pengangguran massal. Beberapa penerbit tetap menjual manga Jepang untuk tetap bertahan, sementara yang lain terpaksa ditutup.

"Setelah kami runtuh sekaligus, kami sibuk mencari jalan keluar," kata Lee Jae-sik, mengatakan kepada Al Jazeera.

Bagi banyak tokoh industri, termasuk Lee, booming dot-com di akhir 1990-an tampaknya menjadi peluang emas. Namun, tidak mudah bagi industri yang goyah untuk berdiri sendiri ketika negara belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi.

Terobosan besar datang ketika mesin pencari yang sedang berkembang, terutama Daum atau Google-nya Korsel, mulai mencari cara baru untuk membuat pengguna tetap datang ke situs mereka.

Dimulai pada awal 2000-an, portal Internet Korsel pun mulai menawarkan buku komik digital dan komik asli yang dibuat untuk web secara gratis.

Kini sebagian besar pengguna internet membaca komik di smartphone mereka, hingga akhirnya webtoon mengadopsi gaya scroll-to-read vertikal yang khas.

"Tindakan menggulir untuk membaca memberikan semacam perasaan gerakan, seperti gerakan pandangan atau aliran waktu," kata Seo Bum-gang, kepala Asosiasi Industri Webtoon Korea.

"Bagi mereka yang bekerja di film, itu sangat mirip dengan storyboard yang digunakan di industri mereka. Ketika penonton membaca webtoon, mereka dapat dengan mudah mengasosiasikannya dengan film."

Sejak akhir 2000-an, industri film dan TV Korea Selatan sibuk mengadaptasi webtoon. Sejak kesuksesan serial drama kantor Misaeng pada tahun 2014, webtoon telah menjadi sumber inspirasi utama bagi dunia hiburan Korea.

Netflix salah satu produsen yang sangat antusias mengadaptasi media tersebut. Menyusul kesuksesan internasional Kingdom, Sweet Home, dan Hellbound, perusahaan hiburan tersebut berencana merilis lima seri berbasis webtoon tahun ini.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Warga RI Jangan ke Korsel Dulu, Covid Rekor 8.000 Kasus/Hari


(tfa/tfa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading