Internasional

Ilmuwan Bongkar Cara Selamatkan Dunia dari Varian Baru Covid

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
07 January 2022 10:10
Iriana Tinjau Vaksinasi Covid-19 untuk Anak di Jakarta (Kris - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akhir-akhir ini dunia dihebohkan dengan beberapa kemunculan varian baru Covid-19. Belum habis kehebohan soal Omicron, kali ini varian baru bernama IHU kembali ditemukan.

Varian ini sendiri ditemukan di Prancis. Peneliti menemukan infeksi di Marseille, Prancis Selatan, sebanyak 12 kasus di mana semuanya dikaitkan dengan perjalanan dari negara Afrika, Kamerun.


Dalam riset disebutkan bahwa varian ini mungkin memiliki 46 mutasi di dalamnya. Dua di antaranya N501Y dan E484K.

N501Y pertama kali terlihat pada varian Alpha dan diyakini para ahli dapat membuatnya lebih menular. Sementara E484K bisa berarti bahwa varian tersebut akan lebih resisten terhadap vaksin.

Menghadapi kemunculan varian baru ini, akademisi penyakit menular di Cardiff University Medical School, Dr. Andrew Freedman, mengatakan bahwa varian baru lainnya juga kemungkinan akan hadir kembali. Bahkan mungkin lebih parah.

Dalam keadaan seperti ini, ia menyebut ada satu syarat dunia terbebas dan kebal dari Covid-19. Yakni bila seluruh masyarakat dunia telah menerima dosis vaksin corona.

"Sampai seluruh dunia divaksinasi, bukan hanya negara-negara Barat yang kaya, saya pikir kita akan tetap berada dalam bahaya varian baru yang datang dan beberapa di antaranya bisa lebih ganas daripada omicron," ujarnya kepada CNBC International, Jumat (7/1/2021).

"Mungkin dengan varian masa depan mereka bahkan lebih menular, mereka mungkin lebih ringan, tetapi kami tidak dapat mengatakannya dengan pasti."

Sebelumnya hal serupa pernah disampaikan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia mengatakan bahwa kemunculan varian Covid-19 Omicron di Afrika adalah bentuk dari ketimpangan vaksin global. Di mana Afrika masih jauh dari target vaksinasi global.

"Jika kita ingin mengakhiri pandemi di tahun yang akan datang, kita harus mengakhiri ketidakadilan," ungkapnya.

Menurut Our World in Data, hingga saat ini, 58,6% populasi global telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid, dengan 9,28 miliar dosis diberikan di seluruh dunia. Namun data ini memiliki kesenjangan tinggi.

Alasannya, mayoritas populasi orang dewasa sekarang telah divaksinasi penuh terhadap Covid di negara-negara kaya. Sementara negara-negara miskin baru mendaftarkan 8,5% tingkat vaksinasi.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Waspada RI, Muncul Varian Baru Covid-19 'IHU'


(tps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading