Bukan Gas & BBM, Ini 'Harta Karun' RI Bisa Ganti Batu Bara!

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
06 January 2022 11:47
PLTP Pertamina Geothermal Energy (PGE). Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia kini sedang mengalami kekisruhan terkait pasokan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) dan pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/ IPP).

Krisis batu bara di dalam negeri ini mencerminkan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil yang dianggap paling kotor ini. Murahnya harga batu bara sebagai sumber energi pembangkit listrik dibandingkan energi lainnya membuat PLN maupun pengembang listrik swasta masih mengidolakan batu bara sebagai sumber energi utama pembangkit listrik di Tanah Air.

Seperti yang disebutkan pengamat kelistrikan yang juga Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, dengan adanya kendala pasokan batu bara, menunjukkan bahwa Indonesia masih bergantung kepada batu bara.


"Ketergantungan Indonesia yang sangat besar pada batu bara dan kondisi ini menyandera kita melakukan transisi energi dengan cepat," terang dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (5/1/2022).

Berdasarkan data Statistik PLN 2020, kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN hingga 2020 tercatat sebesar 20.277,63 Mega Watt (MW) atau 45,9% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang PLN yang mencapai 44.174,79 MW.

Adapun total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional, termasuk pembangkit sewa dan milik pengembang swasta hingga 2020 tercatat mencapai 63.336,12 MW.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional sebesar 63,3 Giga Watt (GW) tersebut, adapun porsi PLTU mencapai 31.952 MW atau sebesar 50% dari total pembangkit listrik.

Dari sisi jumlah unit pembangkit, PLTU berbasis batu bara ini tercatat ada sebanyak 127 unit pembangkit milik PLN pada 2020 dari total 6.059 unit pembangkit.

Dari sisi biaya pembangkitan rata-rata, biaya PLTU memang paling murah di antara energi fosil lainnya yaitu Rp 636,55 per kilo Watt hour (kWh), sementara bila menggunakan gas, biaya pembangkitan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) telah mencapai dua kali lipatnya yakni Rp 1.611,79 per kWh, dan bila menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), biayanya jauh lebih besar lagi yakni Rp 4.746,32 per kWh.

Selama ini, gas dan BBM menjadi sumber alternatif utama batu bara. Namun, perlu diketahui Indonesia juga memiliki "harta karun" energi lainnya yang juga bisa dijadikan sebagai pengganti batu bara. Apalagi pembangkit listrik berbasis batu bara ini biasa digunakan sebagai penopang beban dasar (base load) kelistrikan, maka "harta karun" ini akan cocok digunakan sebagai alternatif dan bahkan dengan harga yang lebih murah dibandingkan gas dan BBM.

"Harta karun" yang dimaksud di sini yaitu energi berbasis energi terbarukan, yakni energi air dan panas bumi (geothermal).

Indonesia menyimpan sumber daya air yang bisa dijadikan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2021, potensi energi air untuk dijadikan sumber energi PLTA RI mencapai 94,6 Giga Watt (GW). Namun, hingga September 2021 baru dimanfaatkan sebagai PLTA sebesar 6.432 Mega Watt (MW). Artinya, baru dimanfaatkan sebesar 6,8% dari potensi yang ada.

Sementara panas bumi Indonesia memiliki potensi 23,7 GW. Namun yang baru dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) hingga September 2021 baru sebesar 2.186 MW. Artinya, baru sekitar 9,2% saja.

Sumber daya panas bumi Indonesia bahkan merupakan tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Hingga akhir 2020, Amerika Serikat menduduki peringkat nomor wahid untuk sumber daya panas bumi yakni mencapai 30.000 Mega Watt (MW). Selanjutnya, Indonesia 23.965 MW, Jepang 23.400 MW, Kenya 15.00 MW dan terakhir Islandia 5.800 MW.

Dari sisi kapasitas terpasang PLTP dunia, Amerika Serikat juga menduduki peringkat pertama dengan kapasitas 3.676 MW hingga akhir 2020. Kemudian disusul Indonesia yang pada akhir 2020 tercatat sebesar 2.130,7 MW. lalu Filipina 1.918 MW, Turki 1.526 MW, dan di posisi kelima yaitu Selandia Baru sebesar 1.005 MW. Adapun kapasitas terpasang PLTP di 10 negara terbesar yaitu 15.345,7 MW.

Besarnya potensi kedua "harta karun" Indonesia ini bisa membuat negara ini mengurangi ketergantungan pada batu bara. Terlebih, biaya pembangkitan rata-rata keduanya juga masih lebih murah dibandingkan energi fosil seperti gas dan BBM. Bahkan, untuk PLTA biayanya masih lebih murah dibandingkan PLTU batu bara.

Berdasarkan data Statistik PLN 2020, biaya pembangkitan rata-rata untuk PLTA "hanya" sebesar Rp 438,57 per kWh, lebih murah dibandingkan PLTU batu bara yang sebesar Rp 636,55 per kWh.

Sementara untuk PLTP, meskipun lebih mahal daripada batu bara, tapi masih lebih murah dibandingkan gas dan BBM, yakni dengan biaya pembangkitan rata-rata sebesar Rp 1.107,89 per kWh.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Simak! Ini Alur Pembelian Batu Bara PLN Jika Pakai Skema BLU


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading