Internasional

Duh! Ada Ramalan Gak Enak Ekonomi China 2022

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
16 December 2021 09:06
China's Chen Meng, left, and Sun Yingsha hold their national flag after winning the table tennis women's singles gold medal match at the 2020 Summer Olympics, Thursday, July 29, 2021, in Tokyo. (AP Photo/Kin Cheung)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi China diramalkan menurun tajam tahun depan. Pasalnya tahun ini Negeri Tirai Bambu masih berjuang dengan krisis utang perusahaan properti dan dampak dari penguncian (lockdown) sporadis Covid-19.

Belum lagi fakta terbaru, penyebaran varian baru virus corona Omicron yang telah masuk China. Ini diyakini akan menambah beban baru negara itu.


Data pemerintah yang dirilis Rabu (15/12/2021) menunjukkan 'titik-titik' masalah untuk ekonomi terbesar kedua di dunia pada November. Harga perumahan residensial turun untuk bulan ketiga berturut-turut, tanda bahwa krisis properti yang sedang berlangsung akan terus berlanjut.

Penjualan ritel juga harus berjuang di tengah pendekatan "nol-Covid" pemerintah yang me-lockdown area di mana virus berkobar, yang akhirnya berdampak pada perekonomian. Belum lagi, kini China menutup memaksa perusahaan untuk menutup pabrik di wilayah manufaktur utama akibat gelombang terbaru Covid-19 sepekan terakhir ini.

"Wabah Covid-19 baru di Zhejiang kembali memicu pembatasan lokal dan penutupan pabrik, sementara masalah di sektor properti kemungkinan akan menahan konstruksi properti untuk beberapa waktu," tulis analis dari Capital Economics dalam catatan Rabu, dikutip dari CNN International.

"Upaya pemerintah untuk melonggarkan kebijakan dan membantu ekonomi hanya akan meredam perlambatan yang diakibatkannya."

Setelah menjadi satu-satunya negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi 2021, China tahun ini telah menghadapi banyak ancaman untuk melanjutkan ekspansi. Kekurangan energi menghambat produksi industri untuk sebagian besar tahun ini, sebab China sedang menyeimbangkan kebutuhan listriknya untuk mengatasi krisis iklim.

Para pemimpin top China telah menyatakan keprihatinan tentang prospek pertumbuhan. Pada pertemuan kebijakan utama pekan lalu, mereka mengakui bahwa ekonomi menghadapi tekanan tiga kali lipat, yakni permintaan berkontraksi, guncangan pasokan, dan ekspektasi yang melemah.

Namun, negara ekonomi terbesar kedua di dunia itu masih diperkirakan akan tumbuh sebesar 7,8% pada tahun 2021, menurut Macquarie Capital. Tetapi Larry Hu, kepala ekonom China untuk Macquarie, memperingatkan bahwa "tren turun yang luas akan berlanjut hingga tahun baru."

"Sementara target PDB resmi lebih dari 6% pada tahun 2021 adalah buah menggantung rendah," tambahnya. "Mempertahankan 5% untuk tahun depan adalah tugas yang sulit."

Meski begitu, data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional menawarkan sedikit kelegaan. Output industri pada November naik 3,8% dari tahun lalu, sedikit meningkat dari Oktober.

Namun ini terjadi seiring dengan lesunya angka real estat dan ritel, investasi dalam aset tetap seperti pabrik dan peralatan juga kehilangan tenaga.

Metrik tersebut meningkat 5,2% selama 11 bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan 6,1% dalam 10 bulan pertama. Kemerosotan ini terutama disebabkan oleh pengeluaran yang lebih lambat di real estat dan infrastruktur. Pengangguran juga naik sedikit, menjadi 5%.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Orang Kaya China Gak Boleh Rakus, Ini Titah Baru Xi Jinping


(tfa/tfa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading