Internasional

Bertubi-tubi, China Kirim Kabar Buruk Lagi soal Ekonomi

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
30 September 2021 13:35
Workers make Chinese flags at a factory ahead of the 70th founding anniversary of People's Republic of China, in Jiaxing, Zhejiang province, China September 25, 2019. REUTERS/Stringer ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar buruk kembali datang dari ekonomi China. Untuk pertama kalinya, aktivitas pabrik di China mengalami kontraksi pada September 2021.

Data resmi dari Biro Statistik Nasional, Kamis (30/9/2021) menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI), ukuran utama aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar kedua di dunia, turun menjadi 49,6 dari 50,1 pada Agustus. Setiap angka di bawah tanda 50 poin menunjukkan kontraksi, sementara di atasnya menunjukkan pertumbuhan.


Kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, mengatakan PMI yang lemah akan menjadi "alarm" bagi pemerintah. "Pertumbuhan ekonomi di Q4 kemungkinan akan melambat lebih lanjut tanpa perubahan kebijakan pemerintah, dan laju perlambatan mungkin meningkat," katanya, dikutip dari AFP.

Kontraksi ini terjadi setelah setahun terjadinya puncak wabah virus corona awal pada Februari 2020, yang memaksa pemerintah untuk memberlakukan penguncian (lockdown). Ini menyebabkan pabrik ditutup sehingga memukul negara ekonomi nomor dua di dunia itu.

Tak hanya itu, China juga dihantam gelombang pemadaman listrik. Kini pihak berwenang juga sedang berjuang untuk mengatasi krisis energi yang disebabkan oleh pasokan batu bara menipis, dengan harga yang melambung tinggi.

Krisis ini sendiri menyebabkan penangguhan pabrik dan pemadaman listrik di setidaknya 17 provinsi dalam beberapa bulan terakhir. Krisis listrik yang berkembang, diperburuk oleh pembatasan pemerintah lokal pada pabrik untuk mengurangi penggunaan energi.

Ini menyebabkan beberapa bank besar menurunkan perkiraan pertumbuhan tahunan terhadap China. Analis di Nomura memangkas perkiraan mereka untuk pertumbuhan China pada tahun 2021 menjadi 7,7% sementara itu, analis di Goldman Sachs memangkas perkiraan pertumbuhan PDB 2021 mereka menjadi 7,8% dari 8,2%,

Sementara ekonomi China sebagian besar telah bangkit kembali, Covid-19 kembali menghantam pariwisata dan manufaktur domestik. China akhirnya memperkenalkan aturan terkait Covid baru.

Akibatnya PMI non-manufaktur China, yang mengukur aktivitas dalam konstruksi dan jasa, menyusut pada Agustus untuk pertama kalinya sejak pandemi dimulai. Namun sedikit pulih kembali ke pertumbuhan pada September.

Kekhawatiran default di sekitar raksasa real estat China Evergrande, yang memiliki utang US$ 300 miliar, juga telah memukul kepercayaan konsumen. Kini pemerintah mencoba menghentikan risiko keuangan agar tidak meluas ke sektor properti lainnya.




[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Dari Beijing hingga Wuhan, China 'Diacak-acak' Varian Delta


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading