Internasional

Ledakan Covid Jerman: Faskes Ambruk, Pasien Pindah ke Italia

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
18 November 2021 14:35
A sign helps passengers to find the COVID-19 test center at the airport Tegel in Berlin, Germany, Saturday, Aug. 8, 2020. From Saturday Aug. 8, on COVID-19 tests are mandatory for passengers coming from a country classified as high risk country. (AP Photo/Markus Schreiber)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 semakin parah melanda Jerman. Bahkan, fasilitas kesehatan (faskes) negara itu sudah mulai menyatakan tanda-tanda ambruk.

Mengutip AFP, sebuah rumah sakit (RS) di wilayah kota Freising, Bavaria, menjadi salah satu faskes yang mengalami keparahan situasi ini. Bahkan mereka memutuskan untuk merelokasi beberapa pasien Covid ke Italia Utara.


"Minggu lalu, Rabu atau Kamis, kami harus memindahkan pasien dengan helikopter ke Merano," kata Thomas Marx, direktur medis di RS Freising.

"Kami tidak memiliki kapasitas lagi untuk menerima mereka, dan rumah sakit Bavaria di sekitarnya juga penuh," katanya.

Sementara itu, di unit perawatan intensif Munich Clinic Schwabing, dokter senior Niklas Schneider menyuarakan agar setiap warga mau menerima vaksin. Pasalnya, banyak pasien dengan gejala parah merupakan orang yang tidak divaksin. 

"Orang sakit yang datang kepada kita, yang berada dalam bahaya maut, kita harus mengobati mereka, mereka membutuhkan bantuan. Tidak masalah apakah mereka sebelumnya anti-Corona, anti-vaksin atau vaksinasi ganda," sebutnya.

Dari pihak pemerintah, Kanselir Angela Merkel memohon agar setiap individu yang belum menerima vaksin untuk segera divaksin. Ia mengatakan bahwa vaksin terbukti efektif dan merupakan jalan keluar dari pandemi yang meluluh lantakan Negeri Sungai Rhein itu.

Sejauh ini 67% orang di Jerman telah divaksinasi penuh terhadap Covid-19. Meski begitu, jumlah ini belum naik secara signifikan akibat banyak kelompok yang menolak vaksin.

"Tingkat vaksinasi kami masih di bawah 75% dari populasi Jerman," kata Presiden Masyarakat Jerman untuk Imunologi, Dr. Christine Falk, dikutip Senin (15/11/2021).

"Dikombinasikan dengan kurangnya pembatasan kontak, ini memungkinkan virus menyebar hampir secara eksklusif di antara yang tidak divaksinasi."


[Gambas:Video CNBC]

(tps/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading