Harga Rumah Naiknya Seret, Masih Cocok Buat Investasi?

News - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
15 November 2021 09:25
INFOGRAFIS, Perhatikan 7 Hal Ini Sebelum Investasi Properti

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga rumah pada kuartal III-2021, berdasarkan laporan Bank Indonesia (BI) masih naik, namun lajunya melambat. Pengamat mengungkapkan ada sejumlah faktor di balik harga rumah naik.

Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengindikasikan harga properti residensial tumbuh terbatas pada Kuartal III-2021.


Tercermin dari kenaikan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Kuartal-III 2021 sebesar 1,41% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,49% (yoy).

BI memproyeksi, pada Kuartal IV-2021, harga properti residensial primer masih tumbuh terbatas sebesar 1,19% (yoy).

Pengamat properti Aleviery Akbar mengungkapkan kenaikan harga rumah bisa terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya karena adanya perpanjangan periode subsidi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembelian rumah sampai akhir tahun ini, sehingga meningkatkan penjualan.

"Hukum ekonomi berlaku dengan demand yang meningkat maka developer menaikan harga rumahnya," jelas Aleviery kepada CNBC Indonesia, Jumat (12/11/2021).

Faktor lain yang mempengaruhi juga, kata dia karena naiknya harga-harga material untuk membangun rumah seperti pasir, semen, bata, dan lain sebagainya. Sejalan dengan membaiknya ekonomi, maka kenaikan harga rumah saat ini, masih dinilai wajar atau normal.

Menurut Aleviery, pasar properti yang bergerak selama pandemi masih pada tipe rumah kecil karena kebutuhan primer keluarga untuk mempunyai tempat tinggal yang layak.

Pada laporan BI, pada Kuartal III-2021 tercatat bahwa pada tipe menengah dan tipe kecil masing-masing tumbuh sebesar 1,39% (yoy) dan 2,03% (yoy). Kinerja ini lebih rendah dari 1,59% dan 1,39% pada kuartal sebelumnya. Sedangkan tipe besar tumbuh relatif stabil pada kisaran 0,80%.

BI menyebut, kenaikan harga properti yang paling tinggi pada rumah tipe kecil dan menengah tersebut ditengarai adanya upaya developer untuk menghabiskan rumah ready stock di mayoritas kota yang terpantau, sehingga cenderung menahan kenaikan harga.

"Pasar menengah bawah mulai ada pertumbuhan tapi masih sangat terbatas. Sedangkan pasar atas/highend masih stabil bahkan bertumbuh cukup baik pada saat pandemi karena banyak yang menjual asetnya," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Aleviery di tengah banyak orang yang menjual rumah-rumah dengan diskon besar-besaran, ditambah masih adanya stimulus dari pemerintah dan BI, bagi yang masih berencana untuk melakukan investasi, ini merupakan waktu yang tepat.

Dia menyebut bahwa situasi ini membawa keuntungan bagi investor. Jadi jika investor mau beli properti saat inilah waktu yang tepat membeli rumah di kawasan elite karena permintaan akan tetap ada sepanjang waktu.

"Rumah kelas atas penjualannya meningkat dengan harga diskon, maka bisa menjadi investasi ke depan yang sangat menarik," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Survei BI: Harga Rumah Naik, Penjualan Turun!


(mij/mij)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading