Internasional

China Krisis? Warga Panic Buying, Rak Supermarket Kosong

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
04 November 2021 09:06
People look at products in the flour section of a supermarket following outbreak of the coronavirus disease (COVID-19) in Beijing, China, November 3, 2021. REUTERS/Thomas Peter

Jakarta, CNBC Indonesia - Saran Kementerian Perdagangan (Kemendag) China agar warganya mulai menimbun barang-barang kebutuhan pokok menimbulkan kebingungan. Panic buying bahkan terjadi di sejumlah kota besar, termasuk Beijing.

Tidak sedikit warga China langsung bergegas ke supermarket untuk mendapatkan persediaan minyak goreng dan beras tambahan. Mereka juga mulai menimbun sayuran seperti kubis hingga tepung sejak Rabu (3/11/2021).


"Ini akan menjadi musim dingin yang dingin, kami ingin memastikan kami memiliki cukup makanan," kata seorang wanita yang memuat nasi ke sepeda di luar supermarket di pusat Beijing, dikutip dari Reuters, Kamis (4/11/2021).

Antrian panjang terbentuk di kios kubis di supermarket. Terlibat banyak orang membeli persediaan sayuran yang secara tradisional disimpan di rumah dan dikonsumsi selama musim dingin mendatang.

Tetapi tidak sedikit juga warga mengatakan tidak perlu membeli makanan lebih dari biasanya. Ada juga yang mengatakan mereka tidak mengharapkan kekurangan karena tinggal di ibu kota.

"Di mana saya bisa menimbun sayuran di rumah? Saya mendapatkan cukup untuk kebutuhan sehari-hari saya," kata seorang pensiunan Beijing bermarga Shi meninggalkan supermarket Beijing lainnya.

Beberapa kota, termasuk Tianjin di utara dan Wuhan di selatan, juga telah mengeluarkan semua sayuran musim dingin dari stok untuk dijual dengan harga lebih rendah di supermarket. Beberapa warga mengeluh secara online tentang rak supermarket yang kosong karena adanya panic buying ini.

"Bahkan beras curah telah dilepas (rak)," kata seorang penduduk di kota selatan Nanjing, menulis di mikroblog China Weibo.

Sementara itu, analis di A.G. Holdings Agricultural Consulting Ma Wenfeng, mengatakan saran pemerintah kepada penduduk untuk membeli persediaan menjelang musim dingin sebenarnya dikeluarkan setiap tahun. Ini untuk mengantisipasi ketidakpastian cuaca.

Namun kali ini gelombang terbaru Covid-19 juga membuat warga bersiap. Akibat Covid-19, China yang menetapkan 'nol kasus' tidak menoleransi satu kasus corona-pun yang menyebabkan pembatasan ketat dan lockdown kota dengan jutaan warga.

"Itu perlu karena sering terjadi hujan salju lebat di musim dingin ... dan tampaknya akan ada ketidakpastian tentang kondisi cuaca tahun ini. Jadi saya pikir ini adalah masalah yang cukup normal," katanya.

"Ada ketidakpastian tentang terjadinya wabah Covid-19. Begitu wabah terjadi, mata pencaharian masyarakat akan terpengaruh. Itu sebabnya orang menimbun persediaan musim dingin untuk menghindari dampak Covid-19," tambahnya.

Sementara media China Central Television (CCTV) mengatakan saran Kemendag untuk menimbun makanan mendapatkan "penafsiran berlebihan". Media itu juga merilis wawancara dengan seorang pejabat Kemendag yang mengatakan pasokan harian untuk warga masih cukup dan akan dijamin sepenuhnya.

"Saat ini, pasokan kebutuhan sehari-hari di berbagai tempat sudah mencukupi, dan pasokan harus dijamin sepenuhnya," kata Zhu Xiaoliang, direktur Departemen Promosi Konsumsi Kemendag, sebagaimana dikutip CCTV.

Pusat Meteorologi Nasional China sempat memperkirakan penurunan suhu selama akhir pekan. Ini akan terjadi di wilayah barat laut, barat daya, dan sebagian besar tengah dan timur.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid-19 Kembali Meningkat, Panic Buying Serang China


(tfa/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading