Internasional

Kabar Buruk, 'Stagflasi' Bakal Serang China

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
28 October 2021 14:20
A resident cycles along a traditional alleyway, or hutong, with Chinese national flags to mark the 70th founding anniversary of People's Republic of China on October 1, in Beijing, China September 26, 2019. REUTERS/Jason Lee

Jakarta, CNBC IndonesiaChina diprediksi mengalami risiko stagflasi selama beberapa kuartal ke depan. Ini dipicu beberapa hal, salah satunya krisis listrik yang sedang berlangsung merugikan pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Dalam makroekonomi, stagflasi adalah periode ketika inflasi dan kontraksi terjadi secara bersamaan. Fenomena ini pertama kali dikenali pada tahun 1970-an saat harga minyak melonjak tinggi tetapi pertumbuhan PDB turun tajam.


Di China, indeks harga produsen melonjak 10,7% pada September 2021 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, pemadaman listrik di seluruh negeri mendorong beberapa bank besar untuk memangkas perkiraan PDB untuk China.

"Situasi seperti itu mempersulit otoritas China untuk merangsang ekonomi secara besar-besaran," kata analis senior untuk keuangan makro China di Autonomous Research, Charlene Chu dikutip CNBC International, Kamis (28/10/2021).

Chu mengatakan stimulus dapat mengintensifkan permintaan energi dan memperburuk kekurangan listrik yang sedang berlangsung. Pada saat yang sama, pabrik-pabrik yang harus offline selama beberapa hari dalam seminggu akibat krisis listrik akan terus membebani pertumbuhan ekonomi.

"Jadi karena itu, saya pikir kita berada dalam situasi di mana ada banyak faktor yang membebani pertumbuhan saat ini yang tidak akan hilang dalam waktu dekat dan kita mungkin tidak mendapatkan stimulus China yang agresif selama beberapa bulan ke depan," jelasnya.

"Itu akan menjadi dinamika yang berbeda bagi dunia untuk menyesuaikan diri," tambahnya, menjelaskan dunia terbiasa dengan China yang merangsang jalan keluar dari berbagai kesulitan ekonomi.

Ekonomi China menghadapi banyak tantangan. Pertumbuhan 4,9% pada tahun yang tercatat pada kuartal ketiga adalah yang paling lambat dalam setahun terakhir. Selain krisis listrik yang berdampak pada produksi pabrik, perlambatan di sektor real estat juga mengurangi pertumbuhan.

Masalah di sektor real estat China muncul ke permukaan dalam beberapa bulan terakhir pasca Evergrande dan pengembang lainnya memiliki banyak utang. Chu mengatakan perlambatan di sektor real estate sangat membebani pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

"Saya tidak berpikir pihak berwenang ingin menciptakan krisis kepercayaan di seluruh sektor pengembang," kata Chu lagi menambahkan negara itu belum mencapai titik di mana kepercayaan di pasar properti utama runtuh.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading