Fenomena Orang Kaya BU Makin Menjadi, Berlian Diobral Murah!

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
22 October 2021 16:00
A 102.39 carat, D color, flawless diamond is displayed by a model at a Sotheby’s auction room in Hong Kong Monday, Sept. 28, 2020. It is the first time that a diamond this size and caliber will be actioned without reservations in history. (AP Photo/Vincent Yu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak kalangan atas melego aset perhiasan seperti emas dan permata saat masa pandemi. Alasannya tidak lain karena 'Butuh Uang' atau BU.

Salah satu penjual di Bukalapak.com menjual berlian dengan harga Rp 750 juta, dengan berat 100 gram di kawasan Sukoharjo.

"Berlian dijual karena butuh uang, deskripsi lengkap di sertifikat. Berminat serius silahkan inbox untuk detail," tulis penjual, dikutip Jumat (22/10/2021).


Spesifikasi berlian dalam sertifikat berbentuk bulat, berukuran 8,32 x 5,11 mm, 2,16 karat, dengan penilaian potongan, polish, symmetry excellent.

Pada website yang sama juga ada penjual Berlian dengan berat 20 gram, dijual dengan harga Rp 20 juta, dengan embel-embel 'Butuh Uang'.

"Butuh uang cepat, berlian berbentuk kecil dan cukup banyak, tapi tidak punya sertifikat. Asli semua kriteria uji berlian masuk. Sekarang lagi saya gadaikan di Pegadaian sebesar Rp 3,5 juta, dulu tahun 1996 saya beli Rp 10 juta. Sekarang saya mau jual semuanya Rp 20 juta saja," tulis penjual.

Melihat fenomena, ini pedagang perhiasan di kawasan Cikini juga membenarkan saat masa pandemi banyak masyarakat yang menjual perhiasan. 

"Kalau sejak pandemi penjualan ada aja. Namun karena posisi toko saya di pusat atau di Cikini didatangi masyarakat yang memang mampu jadi lebih banyak yang beli saat-saat ini," kata Suki Pemilik Toko Cikini Suki Jewellery, kepada CNBC Indonesia, Jumat (22/10/2021).

"Beda dengan masyarakat misal toko emas di kampung mereka saat punya uang memang beli emas untuk menabung, lalu di jual saat butuh uang. Jadi lebih banyak disana," lanjutnya.

Sekretaris Jenderal Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) Iskandar Husein, mengatakan transaksi untuk jual dan beli kembali sudah menjadi kebiasaan yang ada di perdagangan perhiasan di Indonesia.

"Jadi selalu terjadi, hanya saja intensitasnya menurun saja, karena beberapa bulan lalu terjadi pembatasan jam buka tutup, mall/toko," jelasna kepada CNBC Indonesia.

Memang ada orang yang menjual perhiasan dengan alasan butuh uang. Namun belum menunjukkan transaksi yang drastis.

"Masih normal-normal saja. Adapun penjualan emas dari masyarakat ke toko biasa terjadi karena untuk mengganti atau menukar dengan desain terbaru," jelasnya. 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Obral Rumah, Bukti Orang Kaya Menteng Cs Tak 'Kebal' Corona!


(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading