Internasional

Ini 'Biang Kerok' yang Buat Krisis di China Makin Ngeri

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
13 October 2021 07:41
In this photo released by Xinhua News Agency, an aerial photo shows an overflowing Yellow River near the Lianbo Village in Hejin City, northern China's Shanxi Province, Sunday, Oct. 10, 2021. (Zhan Yan/Xinhua via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi di China diprediksi bakal makin parah. Pasalnya bencana banjir menghantam pusat produksi batu bara utama di China, Provinsi Shanxi.

Hujan deras terjadi sejak satu minggu. Setidaknya 15 orang tewas akibat bencana ini dan tiga hilang.


Mengutip Biro Manajemen Darurat provinsi, hujan lebat memaksa penutupan 60 tambang batu bara di provinsi di mana seperempat dari produksi 'emas hitam' dihasilkan. Sekitar 1.900 bangunan hancur dan 1,75 juta warga terkena dampak.

Hal ini membuat harga batu bara terma berjangka, terutama untuk menghasilkan listrik, melonjak ke level tertinggi sepanjang masa Senin (11/10/2021) di pasar komoditas setempat Zhengzhou Commodity Excahnge. Harganya naik dua kali lipat sepanjang tahun ini, sebanyak 12% menjadi 1.408 yuan (US$ 219) per metrik ton.

Padahal batu bara adalah sumber energi utama di China, baik untuk pemanas, pembangkit listrik maupun pembuat baja. Tahun lalu, batu bara mendominasi total penggunaan energi China, hingga 60%.

Ini diyakini membuat listrik warga makin sulit di tengah musim dingin yang mulai melanda. Setidaknya krisis energi di China sudah melebar ke 20 provinsi dalam beberapa pekan terakhir dan menyebabkan penjatahan listrik oleh pemerintah baik ke konsumen rumah tangga ataupun industri.

"Sejak awal tahun ini, harga energi di pasar internasional telah meningkat tajam, dan pasokan listrik dan batu bara domestik tetap ketat," kata Dewan Negara China mengatakan dalam sebuah pernyataan dikutip CNN Internasional, Rabu (13/10/2021)

"Faktor-faktor itu telah menyebabkan pemadaman listrik di beberapa tempat, mempengaruhi operasi ekonomi normal dan kehidupan penduduk."

Hal ini juga diyakini merugikan output industri dan prospek ekonomi China. Apalagi saat ini kebutuhan listrik China meningkat seiring perbaikan kondisi dunia yang meningkatkan permintaan global.

"Pemadaman listrik China akan menambah tekanan ekonomi, membebani pertumbuhan PDB untuk 2022," kata analis Moody dalam laporannya.

"Risiko terhadap perkiraan PDB bisa lebih besar karena gangguan pada produksi dan rantai pasokan masuk."

Sebelumnya, ledakan konstruksi pascapandemi membuat China sangat bergantung dengan bahan bakar fosil. Sementara di sisi lain, pemerintah Xi Jinping tengah berupaya mengurangi emisi karbon yang menyebabkan ratusan tambang tutup dan memangkas produksi sejak awal tahun ini.

Masalah lain muncul saat China yang merupakan konsumen batu bara terbesar di dunia, bersitegang dengan pemasok utamanya Australia. Situasi menjadi kompleks membuat krisis energi makin jadi.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading