Internasional

Krisis di China Makin Parah, Ternyata Ini Biang Keroknya

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
14 October 2021 09:10
Great Wall, China Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi kini melanda China. Setidaknya 20 provinsi mengalami kekurangan pasokan listrik.

Para pekerja diminta menaiki tangga di pabrik bukan lift atau elevator, produsen dipaksa memotong waktu produksi secara drastis, sementara rumah tangga mengalami pemadaman listrik berhari-hari. Krisis ini membuat pihak berwenang China khawatir dan bisnis panik.


Hal ini diyakini bisa mempengaruhi pemulihan ekonomi China. Sektor-sektor intensif energi seperti produksi logam dan semen diperkirakan menjadi salah satu yang paling terpukul.

Pabrik-pabrik ini takut tak bisa memenuhi pesanan yang membludak menjelang akhir tahun. Kepala Kadin China bagian Selatan bahkan mengatakan anggotanya mulai mengandalkan generator diesel untuk beroperasi.

Lalu mengapa ini terjadi?

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Meskipun tenaga batu bara menyumbang sekitar 70% listrik China, ada kekurangan investasi yang terjadi dalam bahan bakar.

Seperti diketahui, Beijing perlahan-lahan menutup tambang batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU) karena alasan lingkungan. Tetapi gangguan lain muncul.

Jika dilihat, sebenarnya pasokan domestik di negara itu berasal dari Provinsi Shanxi, Shaanxi serta Mongolia Dalam. Namun sejumlah hal membuat pasokan di wilayah penghasil batu bara tak berjalan lancar.

Di Mongolia Dalam misalnya, kampanye anti korupsi di industri baru bara keras disuarakan sejak tahun lalu dan mengganggu pasokan. Sementara di Shaanxi, tambang-tambang ditutup seiring dengan peringatan 100 tahun Partai Komunis dan pertandingan nasional China yang membuat pemerintah daerah berupaya memunculkan citra "langit cerah".

Belum lagi banjir yang baru-baru ini menghantam wilayah itu. Hujan deras dan banjir menghantam tambang-tambang batu bara di Shanxi dan Shaanxi.

Mengutip Biro Manajemen Darurat provinsi, sebagaimana dimuat CNN International, hujan lebat memaksa penutupan 60 tambang batu bara di provinsi di mana seperempat dari produksi 'emas hitam' dihasilkan. Sekitar 1.900 bangunan hancur dan 1,75 juta warga terkena dampak.

Masalah tumpeng tindih kebijakan juga menjadi alasan lainnya. Tahun ini China meningkatkan hukuman bagi penambang yang gagal memenuhi pedoman keselamatan yang membuat para bos baru bara enggan memperluas produksi.

"Kurang koordinasi," kata seorang mitra di Plenum China Research, ditulis Financial Times.

Arahan lain juga terkait strategi pemerintah pusat menurunkan konsumsi dan intensitas energi tak ramah lingkungan. Dalam pidato di PBB Xi Jinping bahkan membuat janji iklim dramatis soal ini.

Provinsi pun akhirnya berlomba-lomba memenuhi target ini dengan membatasi pembiayaan untuk pembangkit listrik dengan konsumsi energi tinggi. Provinsi yang gagal memenuhi target direspon dengan penjatahan penggunaan listrik.

Hal ini pun ditambah dengan harga batu bara yang mulai tinggi, seiring kelangkaan energi gas di benua lain yakni Eropa. Harga gas yang melambung dan jumlah yang langka membuat batu bara terkerek naik.

Pasokan domestik menyumbang 90% dari konsumsi batu bara China tapi gangguan impor sangat berpengaruh. Perseteruan dengan Australia, sumber mayoritas batu bara China, karena asal usul Covid-19 juga jadi masalah lain.

"Sanksi (Australia) dan banjir di Indonesia serta wabah pandemi di Mongolia juga berkontribusi pada melemahnya impor batu bara China tahun ini," kata peneliti HIS Markit Lara Dong menjelaskan sumber-sumber impor batu bara Tirai Bambu.

Lalu bagaimana energi terbarukan?

Konsultan energi di Lantau Group mengatakan energi terbarukan belum bisa mencapai skala cukup untuk menggantikan batu bara. Kurangnya hujan juga mengganggu pembangkit listrik tenaga air.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading