Pengusaha Sepatu RI Raup Cuan Gegara Lockdown Vietnam

News - Ferry Sandi, CNBC Indonesia
30 September 2021 10:35
Ribuan pengunjung terlihat mengantre masuk ke plaza Gedung District 8, SCBD, Jakarta Selatan (08/11/2019). Terdapat beberapa brand sepatu yang merilis produk hasil kolaborasi eksklusifnya, diantaranya sepatu Compass, Untold, Rafheoo Footwear, hingga G-Shock. Selain itu, ada pula kolaborasi eksklusif seperti ublic Culture, FR2 (Fxxcking Rabbit), Atmos, hingga Round Two by Sean Wotherspoon.(CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia menjadi salah satu negara yang diuntungkan dari penguncian wilayah (lockdown) beberapa negara industri, salah satunya Vietnam. Salah satu yang mendapatkan 'durian runtuh' adalah industri alas kaki atau sepatu bermerek.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan produsen sepatu kenamaan dunia, seperti Adidas hingga Nike. Begitu juga dengan Vietnam yang selama ini memproduksi produk serupa.

Melihat tren permintaan saat ini, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri optimistis geliat industri alas kaki ini bakal terus tumbuh.


"Industri alas kaki Indonesia untuk ekspor dari 2020 kemarin selama pandemi tumbuh di 8,9%. Di 2021 kita masih tumbuh, bahkan Januari-Juli di angka 14%, jadi mungkin kalau kondisi bagus, kita bisa menutup akhir tahun dengan ekspor di atas US$ 5 miliar," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (30/9/2021).

Sebagai catatan, ekspor sepatu Indonesia meraih catatan tertinggi sebelum memasuki pandemi Covid-19, yakni pada 2018 silam dengan nilai US$ 5,1 miliar. Melihat negara lain seperti Vietnam lockdown, maka potensi untuk melampaui angka tersebut sangat besar karena negara tersebut salah satu pesaing utama Indonesia dalam industri alas kaki.

"Kita memasuki peak season global, natal dan tahun baru, dan sudah mulai produksi September. Kita optimis kelihatannya selama beberapa bulan kemarin Amerika-Eropa kondisi masih bagus, jadi prediksi pasar akhir tahun masih bagus," sebut Firman.

Demi memastikan agar permintaan dari pasar ekspor bisa terus terpenuhi, ia berharap agar produksi dari pabrikan bisa tetap berjalan. Seperti diketahui, saat ini sejumlah pabrik alas kaki sudah menjalani produksi dengan kapasitas 100%.

"Akhir tahun jangan sampai pengetatan lagi, ada natal dan tahun baru kita harap bisa menggerakkan pasar dalam negeri. Kalau misalnya terjadi klaster, yang diterapkan protokol kesehatan ketat, jangan stop total lagi, jangan sampai pengetatan," kata Firman.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam sempat mengakui kondisi lockdown di Vietnam memang berdampak pada limpahan order ke industri dalam negeri.

"Saat ini, PT GI dan PT SCI sedang mendapatkan limpahan order dari Vietnam dan negara kawasan lainnya yang sedang lockdown akibat pandemi Covid-19 gelombang kedua," ujarnya melalui keterangan resmi usai melakukan kunjungan kerja ke Jawa Tengah, Selasa (28/9/2021).

Limpahan orderan tersebut membuat PT Globalindo Intimates (GI) di Kabupaten Klaten dan PT Selalu Cinta Indonesia (SCI) di Salatiga akan melakukan produksi secara penuh hingga tahun 2023. Sehingga kembali membutuhkan tenaga kerja lebih banyak untuk melakukan produksi.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading