Internasional

WHO Kecam Amerika Cs, Sebut Tak Bermoral, Ada Apa?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
08 September 2021 09:11
The logo of the World Health Organization is seen at the WHO headquarters in Geneva, Switzerland, Thursday, June 11, 2009. The World Health Organization held an emergency swine flu meeting Thursday and was likely to declare the first flu pandemic in 41 years as infections climbed in the United States, Europe, Australia, South America and elsewhere. (AP Photo/Anja Niedringhaus)

Jakarta, CNBC IndonesiaOrganisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutuk negara-negara kaya termasuk Amerika Serikat (AS). Ini terkait apa yang disebut lembaga PBB itu, 'penimbunan' vaksin, perawatan dan perlatan pelindung virus Covid-19.

Sebagaimana diketahui sejumlah negara kaya kini berlomba memberikan suntikan penguat alias booster vaksin Covid-19 pada warganya. Ini mengalihkan porsi bantuan ke negara-negara miskin.


Hal itu mungkin membuat target 10% populasi dunia tervaksin akhir September tak tercapai. Termasuk target WHO memvaksinasi 40% warga dunia di Desember 2021.

"Ini bukan hanya tidak adil. Ini bukan hanya tidak bermoral. Ini memperpanjang pandemi," tegas Pimpinan Teknis WHO untuk Covid-19, Maria van Kerkhove, sebagaimana dimuat CNBC International, Rabu (8/9/2021).

"Itu mengakibatkan orang mati."

AS sudah mengimunisasi 53% populasinya dengan dua dosis vaksin Covid-19 lengkap. Namun Booster sejak pekan lalu sudah diberikan kepada lebih dari 1,3 juta orang.

Uni Eropa sudah menginokulasi 57% dari populasi dengan lengkap. Tapi booster juga kini diberikan Prancis dan Inggris ke warganya.

Ini berbeda dengan Afrika. Benua itu baru memvaksin 3% populasi di mana 26 negara baru mendistribusikan kurang dari setengah dari total vaksin mereka.

WHO mengatakan sudah bisa dipastikan 80% negara Afrika tak akan mencapai target vaksinasi 10% warga hingga akhir bulan ini. Padahal mereka menjadi kelompok paling rentan.

WHO juga mengatakan langkah booster mungkin saja akan membuat Covid-19 terus bermutasi seperti flu, Bahkan akan tetap ada.

"Retorikanya baik-baik saja. Ini semua tentang berbagi, ini semua tentang keadilan," kata Direktur Program Kedaruratan kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan.

"Tetapi pada kenyataannya, ketika dorongan datang dan produk ini tersedia, mereka ditimbun di negara-negara, dan tidak dibagikan."

Covid-19 mewabah sejak Desember 2019. Sejak itu 222.715.551 orang sudah terinfeksi dengan korban jiwa mencapai 4.598.372.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jokowi Bicara Gap Kesehatan, 83% Vaksin Diakses Negara Kaya


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading