PLTU Dipensiunkan, Konsumsi Batu Bara Turun Ratusan Juta Ton

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
30 July 2021 11:55
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) punya rencana mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara untuk mengejar target netral karbon pada 2060.

Rencana pemensiunan PLTU dimulai pada 2030 sebesar 1 Giga Watt (GW) untuk PLTU Subcritical tahap pertama. Rencana ini ditargetkan akan terus berlanjut hingga pada 2056 tidak ada lagi PLTU yang beroperasi.

Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo mengatakan, jika rencana memensiunkan PLTU itu jadi dilaksanakan, maka konsumsi batu bara Indonesia akan berkurang sampai 250 juta ton per tahun.


Singgih menyebut, kebutuhan batu bara untuk domestik pada 2030 diperkirakan akan mencapai sebesar 300 juta ton per tahun, salah satunya untuk pembangkit listrik yang dioperasikan PLN dan pengembang listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP) dengan perkiraan kebutuhan batu bara sekitar 167 juta ton.

Kemudian, untuk industri smelter dengan kapasitas pembangkit listrik 7-8 Giga Watt (GW), kebutuhan batu bara mencapai sekitar 50-60 juta ton. Jika ditambah dengan industri lain, maka total kebutuhan batu bara diperkirakan meningkat menjadi 275 juta ton.

"Dan kalau program Peningkatan Nilai Tambah (PNT) jadi, diperkirakan sampai 300 juta, berarti dari total produksi nasional, tetap ekspor menjadi andalan," paparnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/07/2021).

Di tengah proyeksi kebutuhan batu bara domestik 300 juta ton pada 2030, secara bersamaan PLN berencana mempensiunkan 1 GW PLTU Subcritical tahap pertama pada tahun itu juga. Menurutnya, ini akan mengurangi konsumsi batu bara sampai dengan 5 juta ton.

"Kalau sampai 2050 PLN akan memensiunkan sebesar 49 GW, berarti akan memberikan dampak pengurangan (konsumsi batu bara) sebesar hampir 250 juta ton," ungkapnya.

Di tengah rencana mempensiunkan PLTU ini, PLN juga mempersiapkan opsi lain dengan tetap melanjutkan operasional PLTU dengan tetap mengurangi emisi karbon. Caranya, dengan menggunakan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)

"Bisa jadi CCUS diterapkan dengan tujuan Indonesia masih dapat memanfaatkan batu bara untuk kelistrikan, apalagi sumber daya batu bara masih cukup tinggi," tutur Singgih.

Akan tetapi pemanfaatan teknologi CCUS ini masih terkendala masalah keekonomian.

"Namun keekonomian CCUS masih menjadi perdebatan, bahkan terkait dengan proses pemisahan, penangkapan, pengangkutan dan storage sendiri," tuturnya.

Sebelumnya, Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero) Evy Haryadi mengharapkan agar dalam 15 tahun ke depan teknologi ini sudah bisa diterapkan secara ekonomis.

Jika ini dilakukan, maka diperkirakan PLTU tua yang perlu dipensiunkan hanya sebesar 1 GW dari rencana awal hingga 49 GW sampai 2056 mendatang.

"Kami perkirakan 2030 sudah bisa di-retirement (dipensiunkan) dan mulai 2035 kita sudah bisa gunakan CCUS," paparnya dalam Webinar: Masa Depan Batu Bara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam (27/07/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading