PLTU Batal Dipensiunkan, Siap-Siap Biaya Bisa Melonjak!

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
29 July 2021 13:40
PT Indonesia Power melalui Unit Pembangkitan (UP) Suralaya menegaskan jika Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ini tidak menyumbang polusi untuk Jakarta. (CNBC Indonesia/Nia)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) berencana mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam rangka mengejar netral karbon pada 2060 mendatang.

Pengurangan kapasitas PLTU akan dimulai pada 2030 sebesar 1 Giga Watt (GW) PLTU Subcritical tahap pertama.

Pemensiunan PLTU akan terus berlanjut, dan pada 2056 ditargetkan tidak akan ada lagi PLTU yang beroperasi.


Namun di tengah rencana pemensiunan PLTU ini, ada opsi lain yang disiapkan PLN, yakni opsi tetap bisa mengoperasikan PLTU hingga 2060. Caranya yaitu dengan menggunakan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

Lalu, bagaimana dampaknya jika PLTU batal dipensiunkan?

Direktur Eksekutif Institute For Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, ongkos yang dikeluarkan akan meningkat jika PLTU tidak jadi dipensiunkan.

Teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) yang akan diterapkan pada PLTU menurutnya perlu mempertimbangkan keekonomian dan kelayakan teknisnya.

"Kelayakan teknis artinya ada geological storage yang mampu untuk menyimpan karbon dalam jangka panjang," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (29/07/2021).

Fabby menjelaskan, selama ini kelayakan PLTU dengan menggunakan teknologi CCS dan CCUS setara dengan harga karbon US$ 75-100 per ton, yang artinya ini adalah tambahan investasi untuk CCS dan CCUS.

Besaran investasi ini belum termasuk dengan infrastruktur transportasi dan storage yang tidak tersedia di tempat, sehingga harus disiapkan. Oleh karena itu, Fabby meminta agar pemerintah dan PT PLN (Persero) melakukan kajian yang detail untuk opsi mengoperasikan PLTU dengan teknologi CCS dan CCUS ini.

"Sehingga bisa diketahui kelayakan teknis dan ekonomis. Dengan demikian, opsi ini dapat dibandingkan dengan opsi lain yang lebih cost-effective, misalnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)/Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) + energy storage," paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, harga listrik yang diproduksi dari PLTS + storage akan lebih murah dibandingkan listrik dari PLTU pada 2026 mendatang. Menurutnya, jika PLN tetap mengoperasikan PLTU, implikasinya biaya pembangkitan akan naik.

"Estimasi belanja modal (capital expenditure/ capex) PLTU dengan CCS sekitar US$ 4.200-4.500/kW. Kalau lihat nilai capex, maka sepertinya tidak kompetitif dibandingkan energi terbarukan yang lain," lanjutnya.

Selain itu, PLN juga akan kehilangan kesempatan mengembangkan pembangkit listrik yang lebih murah dan menurunkan biaya produksi listrik. Ujung-ujungnya, pemerintah yang harus mensubsidi.

"Saya kira ini bukan pilihan yang bijak," tegasnya.

Fabby menyarankan daripada menjadikan batu bara sebagai sumber energi, lebih baik pemerintah mengembangkan batu bara sebagai bahan baku untuk material maju (advanced material). Misalnya carbon fiber, graphene, graphite, dan lainnya yang sangat dibutuhkan di masa depan.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading