Sampai 2030, Konsumsi Batu Bara PLTU RI Melonjak 38%

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
27 July 2021 17:20
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) memproyeksikan kebutuhan batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sampai dengan 2030 masih akan terus mengalami peningkatan. Konsumsi batu bara untuk PLTU diperkirakan naik sekitar 37,6% menjadi 156,3 juta ton pada 2030 dari 113,6 juta ton pada 2021.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero) Evy Haryadi.

Dia pun menyebut secara rinci perkiraan kebutuhan batu bara untuk PLTU nasional, berdasarkan draf Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, antara lain sebagai berikut:
- 2021 sebesar 113,6 juta ton
- 2022 sebesar 117,6 juta ton,
- 2023 sebesar 125 juta ton,
- 2024 sebesar 131,6 juta ton,
- 2025 sebesar 126 juta ton,
- 2026 sebesar 133,2 juta ton,
- 2027 sebesar 139,1 juta ton,
- 2028 sebesar 143,7 juta ton,
- 2029 sebesar 149,5 juta ton,
- 2030 sebesar 156,3 juta ton.


"Proyeksi kebutuhan batu bara dari draf RUPTL 2021, di visi 2060, masih akan tumbuh sampai 2030," paparnya dalam Webinar: Masa Depan Batubara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam (27/07/2021).

Akan tetapi, kebutuhan batu bara setelah 2030 menurutnya akan mengalami penurunan secara perlahan dan pada 2060 mendatang diperkirakan netral karbon akan tercapai.

"Secara perlahan batu bara turun dari 2030 yang disesuaikan dengan trade off kita untuk capai zero carbon 2060," ungkapnya.

Sebelumnya, PT PLN (Persero) mencatat telah menyerap batu bara sebesar 33 juta ton untuk PLTU sepanjang semester I 2021.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Energi Primer PLN Rudy Hendra Prastowo.

"33 juta ton," ungkapnya singkat kepada CNBC Indonesia saat ditanya berapa konsumsi batu bara PLN sampai semester I 2021, Senin (26/07/2021).

Dia mengatakan, serapan batu bara PLN ini akan sangat tergantung dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat atau kini disebut Level 4 yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Namun pihaknya tetap memproyeksikan konsumsi batu bara akan mengalami peningkatan pada semester II 2021 ini.

"Proyeksi ke depan lebih. Tapi sangat tergantung kondisi PPKM," lanjutnya.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN Agung Murdifi pernah menyampaikan rencana konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik PLN pada tahun 2021 sebesar 63,78 juta MT.

Jika target tahun ini 63,78 juta ton, artinya sepanjang semester I ini serapan batu bara PLN sudah mencapai 51,74% dari target tahun ini.

Sementara kebutuhan batu bara untuk semua PLTU secara nasional pada 2021 diperkirakan naik sebesar 7,8% ke posisi 113 juta ton dari 104,8 juta ton pada 2020.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading