Masa Depan Batu Bara: Perdagangan Karbon Kredit

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
27 July 2021 20:41
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bisnis batu bara kerap disebut sebagai industri yang memasuki masa 'sunset' alias tenggelam, karena batu bara sudah mulai ditinggalkan banyak negara.

Dunia mulai beralih ke energi baru terbarukan (EBT) untuk memenuhi kebutuhan energi karena tidak menghasilkan emisi karbon.

Namun demikian, masih ada cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi meski batu bara masih dikonsumsi, terutama di sejumlah negara berkembang seperti Indonesia, salah satunya yaitu melalui jual beli karbon atau carbon trading.


Pemerintah saat ini tengah menyusun mekanisme jual beli karbon ini. Jika produksi emisi gas rumah kaca (GRK) sebuah perusahaan atau institusi melebihi nilai batas yang ditentukan, maka pihak tersebut harus membeli sertifikat karbon.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Pandu Patria Sjahrir mengatakan, karbon kredit ini akan menjadi masa depan bagi industri batu bara untuk mencapai netral karbon.

Dia mengatakan, RI sebagai eksportir batu bara terbesar bisa menjadi produsen karbon terbesar. Untuk mencapai netral karbon, maka yang perlu dilakukan yaitu mendanai proyek penghematan dan penyerapan emisi karbon atau membeli karbon kredit dari proyek penghematan dan penyerapan emisi karbon tersebut.

"Sistem carbon offset kurang lebih cara kompensasi emisi karbon dengan danai proyek penghematan dan penyerapan emisi atau beli karbon kredit dari proyek penghematan emisi tersebut," ungkapnya dalam Webinar: Masa Depan Batu Bara dalam Bauran Energi Nasional, Senin malam (27/07/2021).

Dia menjelaskan, mekanisme dari karbon kredit adalah untuk menyediakan likuiditas dan efisiensi aliran investasi ke dalam proyek penyerapan/ penghematan karbon dengan tujuan netral karbon.

Alur transaksinya berupa perusahaan yang menyediakan proyek penyerapan atau penghematan karbon akan menjual karbon kredit ke pasar, lalu industri batu bara sebagai penghasil emisi akan membeli karbon kredit tersebut untuk mengurangi emisi.

Namun secara bersamaan, industri batu bara ke depannya juga didorong untuk berinvestasi pada proyek penyerapan atau penghematan karbon seperti proyek energi baru terbarukan, penangkapan karbon atau Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

"Kita harus mengizinkan adanya mekanisme pasar dan perdagangan karbon kredit. Peran pemerintah melalui policy adalah membantu mengakomodir meregulasi dan mengawasi," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan pemerintah membantu mengakomodir, meregulasi dan mengawasi dengan mekanisme pasar. Dari sisi pasar karbon kredit, Indonesia punya potensi besar untuk urusan karbon kredit.

"Poin paling penting masa depan RI 20-30 tahun ke depan adalah carbon neutrality. Masa depan batu bara ke depan adalah mencapai karbon netral," paparnya.

APBI menurutnya mengajak para pengusaha untuk melihat masa depan investasi demi mencapai netral karbon. Batu bara dia sebut sudah mendapatkan banyak momentum positif dari bisnis ekstraktif.

Ke depan, perusahaan batu bara akan menggunakan pendapatan yang ada untuk mencapai netral karbon.

"Kami ajak pengusaha yang forward looking investasi capai carbon neutral, kita sudah dapat positif momentum dari bisnis ekstraktif batu bara," ujarnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ada Teknologi Baru Ini, Rencana Pensiunkan PLTU Bisa Batal!


(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading