Penjualan Listrik PLN Semester I 2021 Tumbuh 4,89%

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
22 July 2021 10:55
Melihat Gardu Induk 150kV Kendari. CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - PT PLN (Persero) mencatatkan pertumbuhan penjualan listrik sebesar 4,89% pada semester I 2021 dibandingkan periode yang sama pada 2020.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril mengatakan, pertumbuhan penjualan listrik selama Januari-Juni 2021 dibandingkan periode yang sama tahun lalu karena pemakaian listrik di masyarakat, terutama untuk pelanggan industri dan bisnis pada semester I tahun ini meningkat.

Sementara pada semester I 2020 lalu ada penurunan karena konsumsi listrik bisnis dan industri menurun akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Selama PSBB 2020 lalu, sejumlah industri dan pusat perkantoran dan perbelanjaan pun tidak beroperasi.


"Penjualan listrik PLN semester I 2021 tumbuh 4,89%," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (22/07/2021).

Dia mengatakan, pertumbuhan penjualan listrik ini juga karena meningkatnya konsumsi listrik masyarakat, terutama di Jawa dan Bali.

"Pertumbuhan terbesar terlihat di Jawa Bali," ujarnya.

Tumbuhnya penjualan listrik PLN pada semester I 2021 ini karena terjadi sebelum diterapkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlaku sejak 3 Juli hingga 25 Juli 2021 mendatang.

Adapun selama diterapkannya PPKM Darurat sejak 3 Juli 2021, PLN mencatat terjadi penurunan beban puncak pemakaian listrik, terutama di Jawa dan Bali sebesar 7% atau 1.900 Mega Watt (MW) dari kondisi sebelum PPKM Darurat beban puncak Jawa dan Bali rata-rata 27.300 MW menjadi 25.400 MW.

"Terkait PPKM terjadi penurunan beban puncak di Jawa Bali 27.300 MW, sekarang menjadi 25.400 MW, ada penurunan 1.900 MW, lebih kurang turun 7%," tutur Bob kepada CNBC Indonesia, Rabu (21/07/2021).

Dia mengatakan, penurunan konsumsi listrik masyarakat ini terutama di sektor pelanggan bisnis dan publik, seperti gedung-gedung pemerintahan dan sosial.

"Sektor bisnis dan publik seperti gedung pemerintahan dan juga sosial," ujarnya saat ditanya golongan pelanggan mana saja yang mengalami penurunan konsumsi listrik.

Namun demikian, di sisi lain, ada peningkatan konsumsi listrik di sektor pelanggan rumah tangga meningkat karena semua kegiatan akan kembali dilakukan di rumah, seperti bekerja dan belajar di rumah.

Seperti diketahui, pemerintah pun memutuskan untuk memperpanjang stimulus listrik berupa pemberian diskon tarif listrik untuk pelanggan 450 VA dan 900 VA dan diskon rekening minimum dan biaya beban abonemen untuk pelanggan industri, bisnis, dan sosial hingga Desember 2021.

Hal ini dilakukan mengingat pandemi Covid-19 masih belum mereda, sehingga dibutuhkan bantuan stimulus dari pemerintah untuk meringankan dampak pandemi bagi masyarakat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers bersama sejumlah menteri lainnya, Rabu (21/07/2021) malam, menyebutkan total anggaran untuk stimulus listrik sepanjang 2021 ini mencapai Rp 11,6 triliun.

Anggaran tersebut terdiri dari diskon listrik Rp 9,49 triliun dan bantuan rekening minimum dan biaya beban atau abonemen Rp 2,11 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading