Ini Bukti Warga Ramai-Ramai Beralih dari Premium ke Pertalite

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
08 July 2021 14:15
Pengendara motor mengatre untuk mengisi bahan bakar Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kawasan Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (17/9/2020). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat realisasi penyerapan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan nilai oktan (Research Octane Number/RON) 88 atau Premium baru sebesar 2,34 juta kilo liter (kl) hingga semester I 2021.

Penyerapan Premium hingga Juni tersebut baru mencapai 23,50% dari kuota tahun ini sebesar 10 juta kl.

Apakah ini artinya banyak warga mulai beralih ke BBM dengan oktan lebih tinggi dan lebih ramah lingkungan seperti Pertalite (RON 90)?


Direktur BBM BPH Migas Patuan Alfon Simanjuntak membenarkan bahwa turunnya penyerapan Premium sampai dengan semester I 2021 disebabkan karena masyarakat mulai beralih ke Pertalite.

"Ya benar," ucapnya singkat saat ditanya apakah penurunan penyerapan Premium disebabkan karena masyarakat mulai beralih ke Pertalite, Kamis (08/07/2021).

Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting pun membenarkan bahwa hal ini juga dipicu karena meningkatnya kesadaran pengguna BBM untuk menggunakan BBM lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan spesifikasi kendaraan.

"Meningkatnya kesadaran konsumen akan penggunaan BBM Pertaseries atau BBM dengan RON yang sesuai dengan peruntukan kendaraan mereka," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (08/07/2021).

Pertamina mencatat, porsi penjualan Pertalite pada Juni 2021 ini mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pada Juni 2020, porsi serapan Pertalite sekitar 56,5%, namun pada Juni 2021 ini porsi penjualan Pertalite naik menjadi 70%.

Tak hanya Pertalite, porsi penjualan Pertamax (RON 92 ke atas) pun menurutnya juga meningkat, yakni menjadi 15% dari 11% pada Juni 2020.

Irto mengatakan, peningkatan porsi penjualan Pertalite ini juga dipicu karena Pertamina juga masih menjalankan Program Langit Biru sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat agar bisa merasakan langsung manfaat BBM kualitas lebih baik melalui potongan harga.

Seperti diketahui, sejak tahun lalu Pertamina memberikan harga khusus Pertalite setara dengan harga Premium yakni Rp 6.450 per liter di sejumlah daerah, terutama Jawa dan Bali. Bila normal dan tanpa program ini, maka harga Pertalite dipatok sekitar Rp 7.650 per liter. Ini berarti, potongan harga mencapai Rp 1.200 per liter.

"Ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk merasakan langsung manfaat menggunakan BBM dengan kualitas lebih baik yaitu dengan memberikan potongan khusus harga Pertalite," ucapnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, gencarnya Pertamina dalam memberikan promo harga hemat kepada Pertamax dan Dex Series yang terus dilanjutkan sejak Januari juga menjadi salah satu pemicunya.

Kini yang terbaru adalah promo harga hemat Rp 300 per liter untuk pembelian Pertamax Series dan Dex Series menggunakan MyPertamina.

"Ternyata juga menarik minat masyarakat untuk terus menggunakan BBM Pertamax dan Dex Series," ungkapnya.

Menurutnya, semakin mudahnya masyarakat dalam mencari informasi juga memicu masyarakat mulai beralih ke BBM yang lebih ramah lingkungan.

"Melalui komunitas otomotif, edukasi di channel sosmed yang meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa penggunaan BBM dengan RON yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan itu berpengaruh menjadi lebih hemat dan kemudahan dari segi perawatan kendaraan," jelasnya.

Selain itu, dia menyebut produk Pertamax juga memiliki keunggulan seperti mengandung Pertatec, zat aditif yang berfungsi membersihkan mesin dari endapan kotoran, melindungi mesin dan menjaga mesin dari karat, serta memastikan pembakaran optimal yang membuat pemakaian bahan bakar lebih efisien.

"Pertamax Turbo juga memiliki Pertatec dan ditambah Ignition Boost Formula yang membuat mesin lebih responsif dan meningkatkan akselerasi kendaraan. Pertamax Turbo juga menjadi BBM yang memiliki standar setara EURO 4 atau maks 50 ppm untuk kandungan sulfurnya, sehingga emisi gas buangnya sangat rendah dan ramah lingkungan," jelasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading