Internasional

Jurus Baru Negara Kaya 'Hancurkan' Hegemoni Jalur Sutra China

News - Tirta, CNBC Indonesia
14 June 2021 15:12
KTT G7.

Jakarta, CNBC Indonesia - Tak mau kalah dengan China yang memiliki projek pembangunan infrastruktur 'Jalur Sutra' (Belt & Road Initiatives/BRI), negara-negara kaya yang tergabung dalam G7 membuat tandingan dengan proyek serupa yang dinamai Build Back Better World (B3W). 

Inisiatif tersebut terbentuk setelah negara anggota G7 yang terdiri dari Amerika Serikat (AS), Kanada, Inggris, Jerman, Prancis , Italia dan Jepang berkumpul di Inggris Barat Daya minggu lalu.


Berbagai media internasional melaporkan inisiatif tersebut tidak hanya untuk menandingi BRI China yang sekarang kalau diestimasi nilainya sudah mencapai kurang lebih US$ 4 triliun. 

Ambisi negara G7 termasuk besar karena lewat rencana B3W tersebut ditujukan untuk mereduksi kesenjangan infrastruktur di negara berkembang senilai US$ 40 triliun sampai 2035. 

Menurut berbagai sumber, proyek tersebut akan digunakan untuk membantu pembiayaan infrastruktur dan sektor lain seperti perubahan iklim, masalah kesehatan hingga kesetaraan gender.

"Ini bukan masalah untuk melakukan konfrontasi dengan China. Namun sampai saat ini kami belum memberikan tawaran alternatif positif yang menunjukkan nilai serta standard dan cara kami dalam berbisnis" begitu kata pejabat senior Gedung Putih sebagaimana dikutip dari Reuters

Belum jelas bagaimana alokasi anggaran dan besarannya. Namun yang pasti dari sudut pandang politik internasional, negara-negara G7 sepertinya tidak ingin peran China di dunia internasional semakin terlihat setelah pandemi Covid-19 terjadi. 

Jadi bisa dibilang B3W adalah proyek saingan dari BRI China. Lantas apakah program ini jika dilaksanakan bakal mampu menandingi atau bahkan membendung semakin besarnya peran China di dunia internasional?

Jawabannya tidak sesederhana mampu atau tak mampu. 

BRI sendiri sudah berjalan kurang lebih delapan tahun di bawah kepemimpinan Xi-Jinping. Namun strategi pembiayaan infrastruktur lewat skenario BRI ke negara-negara berkembang adalah melalui utang. 

Adanya pandemi Covid-19 membuat outlook utang negara berkembang yang menjadi debitur China menjadi memburuk. Kemampuan bayarnya pun menurun.

Lowy Institute dalam artikelnya menyebut bahwa di bawah proyek BRI, bank negara China yaitu China Development Bank dan China Export-Import Bank telah meningkatkan penyaluran kreditnya berkali-kali lipat. 

Bank Dunia memperkirakan bahwa pada 2019 China menyumbang 63% dari utang bilateral negara-negara termiskin kepada anggota G20. Pinjaman China cenderung memiliki motif politik, dengan pengaturan pembiayaan yang tidak jelas yang terkait dengan energi, sumber daya alam, atau kesepakatan komoditas yang lebih luas.

Motif China untuk memberikan utangan kepada negara-negara miskin dan berkembang tersebut dikhawatirkan bakal semakin memperburuk kondisi negara-negara debitur karena tumpukan utang yang semakin menggunung. 

Pakistan merupakan debitur terbesar China, dengan komitmen yang diperkirakan mencapai US$ 62 miliar untuk Koridor Ekonomi China-Pakistan, sebuah proyek besar yang dirancang untuk memberi China alternatif selain Selat Malaka untuk impor energinya.

Pakistan berupaya untuk melakukan perpanjangan pembayaran pinjaman China senilai US$ 30 miliar. Di Laos, China membiayai proyek kereta api berkecepatan tinggi hingga US$6 miliar atau setara dengan 35% dari PDB negara itu. Peringkat kredit Laos baru-baru ini diturunkan oleh Fitch menjadi CCC.

Negara-negara Asia lainnya yang telah beralih ke China untuk bantuan pembiyaan pembangunan ekonominya adalah Maladewa dan Sri Lanka. Selama dua dekade terakhir, China telah meminjamkan negara-negara Afrika hampir senilai US$ 150 miliar.

Belum lama ini dua debitur besar China seperti Ethiopia dan Zambia tengah berusaha untuk menegosiasikan kembali komitmen mereka. Angola telah meminjam kurang lebih US$ 43 miliar, terutama untuk investasi terkait minyak.

"Sifat pembiayaan China yang terfragmentasi, dari sumber milik negara dan komersial, membuat sulit untuk melacak siapa berutang apa kepada siapa." tulis Lowy Institute. 

Halaman 2>>

Banyak Negara Utang ke China Minta Restrukturisasi, Bahaya buat China?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading