Penjelasan Luhut Soal RI Mau 'Lenyapkan' PLTU Batu Bara

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
31 May 2021 10:50
Luhut Binsar Pandjaitan mining Zone

Jakarta, CNBC Indonesia - Tren dunia kini mulai mengarah ke pemakaian energi bersih, sehingga penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara mulai ditinggalkan. Pun demikian dengan Indonesia, akan meninggalkan pemakaian batu bara untuk pembangkit listrik.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan energi fosil saat ini menjadi musuh bersama dunia. Oleh karena itu, pemerintah juga akan segera mengambil langkan mempensiunkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara.

"Sekarang ini fossil energy jadi musuh bersama (dunia). Bertahap, pemerintah juga mau pensiunkan power plant batu bara," ujarnya dalam acara 'Indonesia Investment Forum 2021' secara virtual, belum lama ini (27/5/2021).


Mulai ditinggalkannya PLTU oleh dunia menurutnya ditandai dengan banyaknya lembaga keuangan dunia atau perbankan yang tidak lagi mau mendanai pembangunan berbasis energi fosil.

"Kenapa itu terjadi? Karena pemanasan global sekarang membuat bumi makin panas. Jadi kalau naik saja sampai 1,5 derajat, itu akan punya dampak yang tidak bagus," jelasnya.

Dengan pensiunnya energi fosil, pemerintah akan membuka kesempatan bagi investor untuk berinvestasi di bidang energi baru terbarukan (EBT). Investasi di bidang energi terbarukan juga digadang-gadang menjadi salah satu fokus pemerintah dalam memulihkan perekonomian nasional. Apalagi, lanjutnya, Indonesia dianugerahi potensi besar energi baru terbarukan.

Lebih lanjut Luhut menjelaskan fokus investasi pemerintah saat ini antara lain di sektor kesehatan maupun hilirisasi sumber daya alam. Salah satu langkah untuk meningkatkan investasi, kata Luhut, yaitu dengan mempermudah perizinan usaha.

Dengan terbitnya Undang-Undang Cipta Kerja, dia yakin regulasi terkait perizinan usaha akan semakin mudah.

"Seperti hilirisasi di nickel ore untuk mengembangkan mobil listrik. Saya kira ini sekarang berjalan dan kita berharap 2023 kita sudah memiliki baterai listrik," kata Luhut.

Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan yang banyak untuk menjadi pemain kunci di industri baterai listrik. Implementasi UU Cipta Kerja akan menyederhanakan regulasi yang tumpang tindih.

"Terdapat 8.451 peraturan pusat dan 15.965 peraturan daerah. Ini semua diharmonisasikan sehingga membuat orang yang mau investasi di Indonesia jadi lebih bagus," kata Luhut melanjutkan.

Sebelumnya, PT PLN (Persero) selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor ketenagalistrikan, menuturkan juga akan menghentikan operasional PLTU batu bara sebagai upaya menuju netral karbon pada 2060.

Darmawan Prasodjo, Wakil Direktur Utama PLN, mengatakan untuk menuju netral karbon di 2060 ini, PLN akan mulai menggantikan PLTU dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dengan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 1,1 Giga Watt (GW) pada 2025 mendatang.

"Kami bangun time line, yakni 2025-2030 sudah haramkan PLTU baru, bahkan diharapkan di 2025 ada replacement (penggantian) PLTU dan PLTMG dengan pembangkit listrik EBT," paparnya saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (27/05/2021).

Setelah itu, pihaknya menargetkan akan mempensiunkan PLTU Subcritical tahap I dengan kapasitas mencapai 1 GW pada 2030.

"Di 2030 retirement Subcritical tahap pertama 1 GW," imbuhnya.

Lalu, dilanjutkan mempensiunkan PLTU Subcritical tahap II dengan kapasitas 9 GW pada 2035. Dan pada 2040 ditargetkan bisa mempensiunkan PLTU Supercritical sebesar 10 GW.

Sementara PLTU Ultra Supercritical tahap I ditargetkan bisa dipensiunkan pada 2045 sebesar 24 GW dan PLTU Ultra Supercritical terakhir sebesar 5 GW bisa dipensiunkan pada 2055.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading