Berdarah-Darah Parah, Maskapai Mulai 'Amputasi' Para Karyawan

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
25 May 2021 15:25
Sejumlah pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di pelataran pesawat Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (4/1/2018)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi sudah berjalan satu tahun lebih, industri penerbangan masih kesusahan untuk bertahan. Bahkan ini ada tren maskapai makin melakukan efisiensi di tengah keuangan yang 'berdarah-darah' dengan memangkas jumlah karyawan secara permanen.

Skemanya macam-macam, ada maskapai yang menawarkan pensiun dini sampai ada tawaran resign dengan uang terima kasih. Garuda Indonesia misalnya menawarkan opsi pensiun dini kepada karyawan, dalam upaya pemulihan kinerja usaha. Begitu juga dengan maskapai Sriwijaya Group yang menawarkan opsi pengunduran diri sukarela bagi karyawan yang sedang dirumahkan.

Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto, mengurangi jumlah karyawan merupakan konsekuensi logis dari krisis di industri penerbangan, akibat pandemi Covid-19.


"Semua maskapai mengalami penurunan drastis dari sisi operasi dan pendapatan, sehingga opsi pengurangan biaya operasi termasuk biaya tenaga kerja," jelasnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (25/5/2021).

Dia menjelaskan tidak hanya biaya tenaga kerja, pengurangan biaya operasi juga bisa terjadi di lini operasi lainnya. Tergantung dari maskapai bagaimana pilihannya untuk bertahan.

Sebelumnya, INACA sendiri memprediksi pemulihan sektor penerbangan diprediksi akan membaik pada 2022. Namun optimal kembali pada sedia kala pada 2024 untuk penerbangan domestik, dan penerbangan internasional pada 2026.

Pengusaha juga melihat pemulihan industri penerbangan Indonesia pada skenario moderat. Dimana pemulihan penerbangan baru terjadi pada 2024 untuk domestik dan internasional pada 2026.

"Tingkat akurasi prediksi ini bergantung pada vaksinasi, seberapa cepat. Skenario optimistis domestik ini 2022 moderat 2024 dan international flight di 2026. Kalau saya lebih condong ke moderat," kata Hariyadi dalam webinar, Kamis (15/4/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(hoi/hoi)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading