Round Up

Fakta-fakta di Balik Surplus Neraca Dagang April US$ 2,19 M

News - Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
21 May 2021 10:04
Aktifitas kapal ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (15/3/2021). Bandan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan ekspor dan impor tecatat US$ 15,27miliar atau mengalami kenaikan 8,56% dibandingkan pada Februari 2020 (year-on-year/YoY) yang mencapai US$ 14,06 miliar. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan RI per April 2021 surplus US$ 2,19 miliar. Ini merupakan angka tertinggi sejak 12 bulan lalu.

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kinerja perdagangan Indonesia per April 2021.

Data itu menunjukkan ekspor mencapai US$ 18,48 miliar atau naik 0,69% dibanding bulan sebelumnya, tapi naik 51,95% secara year on year April 2020 lalu.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, ekspor minyak mentah dan gas naik dari volume maupun dari sisi nilai. Sementara ekspor dari non migas ada kenaikan dari komoditas besi baja, perhiasan permata, dan logam mulia.

"Beberapa komoditas nonmigas andalan Indonesia juga naik seperti tembaga naik 3,74% MoM, emas naik 2,43% MoM. Sementara yang mengalami penurunan mulai dari karet, batu bara, cokelat," ujar Suhariyanto dalam keterangan pers, kemarin.

Tercatat per April 2021 impor Indonesia turun 2,98% dibanding Maret 2021 sebesar US$ 16,29 miliar. Walaupun secara year on year masih naik 29,93% dibanding April 2020 lalu.

"Impor Maret lalu impor naik tajam dari US$ 13,26 miliar (Februari) jadi US$ 16,79 miliar, dan pada bulan April ini impor kita naik lagi US$ 16,29 miliar, secara bulan ke bulan mengalami penurunan 2,98%. Tapi dibanding posisi April 2020 di mana Covid-19 masih merajalela mengalami peningkatan 25%, dibanding posisi April 2019 masih lebih tinggi sebesar US$ 15,4 miliar," jelas Suhariyanto.

Komposisi impor kenaikan tertinggi dari barang konsumsi mencapai 12,89% dibanding bulan sebelumnya, sementara secara year on year naik 34%. Porsi dari barang konsumsi kepada total ekspor hanya 10%. Impor Indonesia didominasi bahan baku dengan porsi mencapai 76,55% di April.

"Barang konsumsi yang naik adalah raw sugar dari India, bawang putih dari China, anggur dari China, daging boneless frozen dari Australia, barang barang ini dibutuhkan menjelang Ramadan dan Idul Fitri," kata Suhariyanto.



Kinerja perdagangan Indonesia dibandingkan negara lain
Suhariyanto juga menjelaskan Indonesia mengalami surplus dagang jika dibandingkan dengan beberapa negara. Dengan Amerika Serikat (AS) surplus US$ 1,217 miliar, dengan Filipina surplus US$ 554 juta, dan dengan India surplus US$ 439 juta.

Secara kumulatif neraca perdagangan Januari-April mengalami surplus US$ 7,72 miliar. Sementara itu pada 2020 dan 2019 kinerja neraca dagang masing-masing surplus US$ 2,22 miliar dan defisit US$ 2,28 miliar.

Akan tetapi, Indonesia menderita defisit jika dibandingkan sejumlah negara seperti China (defisit US$ 652,1 juta) Australia (US$ 418,3 juta), dan Thailand (US$ 248,1 juta).

"Secara kumulatif neraca perdagangan Januari-April 2021 mengalami surplus besar dan menggembirakan," ujar Suhariyanto. "Performa ini harus dipertahankan dan kerja sama dari berbagai pihak menggerakkan berbagai sektor. Kuncinya penanganan Covid-19. Pemerintah sudah gerakkan vaksinasi dan kita harus patuh protokol kesehatan," jelasnya.



[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Neraca Dagang RI: Untung dari AS Tapi Keok atas Thailand


(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading