Konflik Israel-Palestina

Waduh, Diam-diam Biden Jual Senjata ke Israel Rp 10 T

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
18 May 2021 10:28
An Israeli artillery unit fires toward targets in the Gaza Strip, at the Israeli-Gaza border, Sunday, May 16, 2021. (AP Photo/Heidi Levine)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyetujui penjualan senjata berpemandu presisi senilai US$ 735 juta atau setara Rp 10,5 triliun (asumsi Rp 14.300/US$) ke Israel.

Menurut sumber di kongres pada Senin (17/5/2021), anggota parlemen AS pun diperkirakan tidak akan keberatan dengan kesepakatan tersebut, meskipun ada kekerasan antara Israel dan Palestina.


Hal ini diungkap Washington Post, sebagaimana ditulis CNBC International Senin (17/5/2021). Kongres sudah diberitahu secara resmi tentang penjualan komersial pada 5 Mei lalu.

Ini dilakukan sebagai bagian dari proses peninjauan reguler sebelum melanjutkan perjanjian penjualan senjata asing utama. Di bawah undang-undang AS, pemberitahuan resmi memberikan 15 hari bagi Kongres untuk menolak penjualan tersebut.

Sebagai informasi, penjualan Joint Direct Attack Munitions (JDAM) yang dibuat oleh Boeing Co dianggap hal yang "rutin". Perjanjian sudah dimulai bahkan sebelum konflik Palestina-Israel panas sejak pekan lalu.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengkritik rencana AS. Ia bahkan menyebut Biden memperburuk keadaan.

"Anda menulis sejarah dengan tangan berdarah dalam insiden yang merupakan serangan serius yang tidak proporsional di Gaza, yang menyebabkan ratusan ribu orang mati syahid," katanya setelah rapat kabinet pada Senin, dikutip dari Reuters.

Tidak hanya AS, Erdogan juga mengecam negara-negara Barat lain yang dianggapnya 'diam'. Erdogan sendiri juga rutin menghubungi para pemimpin dunia dalam sepekan terakhir untuk membantu Palestina.

Kemarin, AS dikabarkan memblokir pernyataan bersama Dewan Keamanan (DK) yang menyerukan penghentian kekerasan Israel-Palestina. Ini merupakan ketiga kalinya hal serupa dilakukan AS.

Hal tersebut, memicu pertemuan tertutup baru yang rencananya digelar kembali hari ini. Semenjak kekerasan meningkat rapat sudah terjadi tiga kali tanpa hasil sejak 10 Mei lalu.

Pernyataan bersama DK PBB tersebut dirancang China, Tunisia dan Norwegia. Naskah sudah diserahkan sejak Minggu malam untuk disetujui di rapat tertutup yang dilakukan 15 anggota DK pada Senin lalu.

Sebagaimana diketahui, tindakan kekerasan Israel kali ini disebabkan oleh proses pengadilan kontroversial yang mengakibatkan tindakan pengusiran empat keluarga Palestina dari rumah mereka di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur.

Pengusiran ini bukanlah kebijakan parsial yang berdiri sendiri tetapi merupakan bagian yang integral dari tindakan penjajahan Israel terhadap rakyat Palestina, yang bertentangan dengan norma hak asasi manusia dan hukum internasional.

Hingga kini serangan Israel ke Palestina masih terjadi. Associated Press menyebut Israel menggelar serangan besar-besaran di sejumlah titik di Gaza. Ini merupakan pekan kedua peperangan terjadi. Perang yang tidak seimbang itu telah menewaskan 212 warga Palestina.

Sebanyak 61 orang adalah anak-anak dan 36 orang merupakan perempuan. Jumlah korban luka-luka saat ini mencapai lebih dari 1.400 orang. Sementara itu korban jiwa di pihak Israel mencapai sepuluh orang. Di antaranya adalah seorang perawat asal India, seorang anak berusia lima tahun dan seorang tentara.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading