Lion Bantah, Super Air Jet Seberapa Super Maskapai Baru Ini?

News - Tirta, CNBC Indonesia
04 May 2021 16:40
Super Air Jet. Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada pemain baru di dunia maskapai penerbangan Indonesia. Namanya adalah Super Air Jet. Maskapai penerbangan tersebut dikabaekan terafiliasi dengan bos Lion Air milik pengusaha Rusdi Kirana. 

Kabar mengenai pembentukan maskapai baru oleh pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana sudah santer sejak Oktober 2020. Kala itu sempat beredar desain pesawat dengan nama maskapai Super Air Jet, menggunakan hasil pabrikan Airbus dan Boeing.

Kabar ini diketahui dari artikel Bloomberg berjudul "Lion Air's Founders Planning to Launch New Airline in Indonesia" pada tahun lalu. Dalam laporannya diungkap bahwa rencana Rusdi Kirana ini berkaitan dengan pengembangan bisnis penerbangan di tengah situasi krisis.


Kala itu, pihak Lion Air Group sempat merespons kabar tersebut dengan irit bicara. Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro, sempat tidak membantah adanya rencana tersebut. Namun, ia juga tak menjelaskan detail rencana pembentukan maskapai baru Rusdi Kirana, tanggapan Lion Air bisa klik di sini. 

Kini, setelah muncul pengenalan Super Air Jet, akhirnya Danang menjelaskan bahwa Super Air Jet berbeda manajemen dengan Lion Group. "Berbeda dalam management," katanya kepada CNBC Indonesia, Selasa (4/5) saat ditanya apakah Super Air Jet bagian dari Lion Group. Namun, Danang tak merespons soal pertanyaan Super Air Jet bagian dari kepemilikan Rusdi Kirana.

Super Air Jet dikabarkan bakal segera melayani rute domestik terlebih dahulu. Ke depan Super Air Jet juga akan membuka rute internasional. Model bisnis yang diusung adalah low cost carrier (LCC). 

Juru Bicara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Adita Irawati membenarkan soal maskapai baru ini. Namun sampai saat ini masih belum ada kepastian kapan Super Air Jet bakal bisa mengudara. 

Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman, menjelaskan kemuculan Super Air Jet di saat bisnis maskapai sedang tak baik justru bisa menjadi salah satu strategi untuk mendirikan maskapai baru. Dalam kondisi pandemi, para kompetitor sedang menghadapi masalah untuk bertahan, jadi belum tentu bisa bereaksi langsung jika ada pemain baru.

"Kenapa tidak? Kalau kondisi lesu jadi punya waktu menyelesaikan masalah yang timbul saat operasi, karena maskapai baru yang baru bukan akan banyak masalahnya, dan dari kondisi sekarang kompetitor masih fokus bertahan dalam pandemi," jelas Gerry kepada kepada CNBC Indonesia.

Incar Segmen Gemuk

Segmen yang disasar oleh maskapai baru adalah kawula muda milenial yang doyan traveling. Kehadiran maskapai baru ini akan membuat bisnis maskapai menjadi lebih dinamis. 

Selama ini dunia penerbangan Tanah Air dikuasai oleh perusahaan BUMN yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang juga mengoperasikan Citilink. Pangsa pasar terbesar lainnya juga dikuasai oleh Lion Group dengan Lion Air, Wings Air untuk segmen menengah ke bawah dan Batik Air untuk kelas menengah ke atas. 

Jika strategi diskon besar-besaran yang digunakan dan banting-bantingan harga tetapi memberikan experience dan nuansa baru bagi penumpang, bisa jadi kemunculan maskapai ini akan menjadi disruptor di industrinya. 

Apalagi yang disasar adalah kaum milenial yang dari segi jumlah sangatlah banyak di Indonesia. Sebagai negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia dan lebih dari 270 juta penduduk, setengahnya berusia kurang dari 30 tahun. 

Bayangkan saja ada 135 juta orang yang berada di usia millennial, generasi Z dan next gen yang menjadi salah satu ujung tombak 'experience economy' sebagai fase baru setelah era agraria, industri dan jasa sebagaimana dicetuskan oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore.

Sejak tahun 2018 saja penumpang pesawat terbang sudah didominasi oleh kaum milenial. Dalam 10 tahun ke depan 70% pengisi kursi pesawat terbang adalah kaum milenial dan generasi di bawahnya. 

Dengan kenaikan status ekonomi, kaum milenial yang jumlahnya besar memang menjadi pasar yang menarik untuk disasar oleh berbagai macam industri mulai dari telekomunikasi, gadget, kosmetik bahkan hingga maskapai pesawat terbang karena saking menggiurkannya peluang yang ditawarkan.

Bagaimanapun juga kemunculan maskapai baru ini di saat-saat yang sebenarnya tidak diinginkan. Kondisi industri sektor transportasi terutama maskapai pesawat terbang berdarah-darah akibat pandemi Covid-19. 

Adanya kebijakan pembatasan sosial di dalam negeri dan larangan bepergian membuat jumlah penumpang pesawat terbang domestik anjlok signifikan. Pada 2019 total penumpang domestik mencapai 76,68 juta orang.

Angkanya anjlok hampir 58% tahun lalu. Jumlah penumpang pesawat terbang rute domestik tercatat hanya 32,4 juta orang saja. Itu pun ditopang dengan masih banyaknya penumpang di awal tahun sebelum pandemi merebak. 

Kondisi penerbangan rute internasional lebih mengenaskan lagi. Jika sebelum pandemi jumlah penumpang pesawat rute internasional mencapai 17,38 juta orang maka tahun lalu jumlahnya drop 88,6% menjadi kurang dari 2 juta penumpang saja. 

Industri maskapai dan pariwisata baru akan rebound ketika Indonesia terbebas dari pandemi. Dalam sebuah prediksi yang optimistis pandemi akan berakhir tahun 2022. Artinya satu tahun lagi. 

Saat ini setidaknya ada 12 juta orang yang sudah disuntik vaksin satu kali dan 7 juta orang sudah mendapatkan suntikan penuh. Jika dilihat angkanya masih jauh dari target pemerintah untuk memvaksinasi 60%-70% masyarakat RI. 

Rasanya untuk mengebut sampai jumlah tersebut dalam satu tahun agaknya sulit. Kalaupun sektor transportasi dan pariwisata rebound kemungkinan rute domestik terlebih dahulu yang bergeliat. Sementara rute internasional akan menyusul belakangan jika kondisi global menjadi lebih kondusif. 

Ini artinya baik pemain baru maupun pemain lama di industri maskapai penerbangan harus jauh lebih sabar dan atur strategi untuk turnaround terutama untuk menjaga arus kas kembali sehat dan neraca (balance sheet) tetap kuat. Bukan pekerjaan mudah tentunya. 


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading