EARTH DAY SUMMIT

Awas, Karbon Netral ala Biden Bisa Ancam Ketahanan RI!

News - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
23 April 2021 09:55
President-elect Joe Biden speaks, Saturday, Nov. 7, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Andrew Harnik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Earth Day Summit digelar Kamis ini (22/4/2020), di mana Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengampanyekan target karbon netral paling lambat pada 2050. Beberapa negara tunduk, lainnya menolak. Indonesia sebaiknya di mana?

Pertemuan Hari Bumi kali ini digelar secara daring, diikuti beberapa pemimpin negara utama dunia. Pembicaraan lanjutan bakal digelar dengan dihadiri pemimpin dunia November nanti di Glasgow, Skotlandia.

Agendanya satu: percepatan pengurangan emisi gas rumah kaca dengan mencapai net zero emission atau carbon neutral. Kedua istilah tersebut mengacu pada upaya menyeimbangkan emisi karbon mendekati nol dengan mengurangi penggunaan energi fosil dan penghijauan.


Manuver Biden itu tak hanya membalik kebijakan presiden sebelumnya Donald Trump, yang secara sepihak keluar dari Kesepakatan Paris. Melainkan juga mempercepat laju pencapaian pengurangan emisi gas rumah kaca.

Sebelumnya dalam komitmen Paris yang diratifikasi 194 negara di dunia itu, emisi gas pemicu efek rumah kaca disepakati dipangkas dalam kisaran 20-65% pada 2030. Namun kini, inisiatif yang didorong Biden tersebut membidik net zero emission pada 2050.

John Kerry, politisi Partai Demokrat yang menjadi Utusan Khusus untuk Perubahan Iklim, jauh-jauh hari telah mengampanyekan pentingnya menetapkan komitmen karbon netral pada pertengahan abad 21 alias tahun 2050. Manuver ini sah-sah saja dilakukan karena target Paris Agreement memang bisa disesuaikan tergantung kebijakan politik tiap negara.

Namun, lagi-lagi secara politis, seruan AS tidak banyak direspon. China menargetkan karbon netral baru akan dicapai pada 2060 dan bukannya 2050. India yang merupakan negara dengan emisi karbon terbesar ketiga setelah AS dan China juga menolak seruan politisi AS tersebut.

qSumber: OWID

Reuters pada Selasa (30/3/2020) melaporkan bahwa pemerintah India memilih memenuhi komitmen awalnya sebagaimana sudah diajukan dalam nationally determined contribution (NDC) untuk mengurangi jejak karbon hingga 35% dari 2005 ke 2030, dan bukannya mengikuti target ambisius Biden untuk mencapai emisi karbon 0% pada 2050.

Raj Kumar Singh, Menteri Daya Listrik India, dalam pertemuan yang digelar International Energy Agency (IEA) pada akhir Maret lalu bahkan secara lugas menyebut target yang dipatok Biden itu sebagai "bakpia di atas langit."

Bagaimana dengan Indonesia, selaku negara dengan penyumbang gas rumah kaca terbesar ke-8? Sejauh ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa emisi karbon 0% baru dicapai pada 2070 atau 2 dasawarsa lebih lambat dari target yang diusung Biden.

Rencana dan target itu termaktub dalam Dokumen Strategi Jangka Panjang Penurunan Emisi Karbon dan Ketahanan Iklim 2050 (Long-Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience/ LTS-LCCR 2050). Beberapa kalangan memprotes langkah tersebut, karena dinilai kurang agresif mencegah pemanasan global.

Di situ, bauran energi primer pada 2050 akan berisikan batu bara (34%), energi terbarukan (33%), gas (25%), dan minyak bumi (8%). Ini merupakan skenario ambisius, sesuai dengan NDC yang telah diajukan dalam Kesepakatan Paris.

Berkaca dari Insiden Mati Lampu Massal di Texas
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading