Harga Batu Bara Domestik Dibatasi, Diklaim Hemat Triliunan

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
22 March 2021 16:25
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menetapkan harga jual batu bara untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum maksimal sebesar US$ 70 per ton. Melalui aturan ini, penghematan disebut bisa mencapai belasan triliun rupiah.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja di Komisi VII DPR RI, Senin (22/03/2021).

Dia mengatakan, pada 2018 penghematan biaya sebagai dampak dari kebijakan pembatasan harga batu bara adalah Rp 17,9 triliun. Lalu, pada 2019 penghematan mencapai Rp 11 triliun.


"Kebijakan pembatasan harga batu bara untuk pembangkit sebesar US$ 70 per ton, ada penghematan biaya pembangkitan tahun 2018 Rp 17,9 triliun, tahun 2019 Rp 11 triliun," ungkapnya, Senin (22/03/2021).

Penghematan ini terjadi ketika harga batu bara di pasar mencapai di atas US$ 70 per ton, sementara harga batu bara untuk pembangkit listrik dibatasi maksimal US$ 70 per ton.

Namun, pada 2020 ketika harga batu bara dunia anjlok dan berada di posisi di bawah US$ 70 per ton sebagai akibat pandemi Covid-19, maka tidak terjadi penghematan.

"Selama tahun 2020 harga batu bara relatif lebih rendah dari US$ 70, sehingga tidak ada penghematan biaya," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, kebutuhan batu bara dalam negeri terus mengalami peningkatan dikarenakan beberapa hal. Pertama, peningkatan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Kedua, kewajiban membangun smelter, yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar. Ketiga, kebutuhan akan tempat tinggal semakin meningkat, sehingga meningkatkan permintaan semen.

"Pembangkit, penyerapan (batu bara) 79% dari total kebutuhan (batu bara) di dalam negeri," ujarnya.

Konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik naik 50% sejak 2015. Pada 2015, konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik mencapai 70 juta ton, lalu naik jadi 74,1 juta ton pada 2016, 82,3 juta ton pada 2017, 89,3 juta ton pada 2018, 97,8 juta ton pada 2019, dan 104,8 juta ton pada 2020.

Adapun produksi batu bara naik sekitar 30% sejak 2015. Pada 2015 produksi batu bara mencapai 462 juta ton, lalu naik menjadi 456 juta ton pada 2016, 461 juta ton pada 2017, lalu naik signifikan menjadi 558 juta ton pada 2018, 616 juta ton pada 2019, dan turun menjadi 564 juta ton pada 2020.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading