Internasional

Geger Pemenggalan Guru Prancis Hasil Kebohongan, Ini Faktanya

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
11 March 2021 10:00
Seorang pria memegang gambar Macron dengan cetakan sepatu di atasnya ketika pengunjuk rasa Turki meneriakkan slogan-slogan menentang Prancis selama demonstrasi atas kartun Nabi Muhammad, di Istanbul. (AP/Adel Hana)

akarta, CNBC Indonesia - Tidak ada yang menyangka satu kebohongan yang dilontarkan seorang siswi berinisial Z dapat mengantarkan Prancis pada tragedi pemenggalan kepala seorang guru sejarah serta kemurkaan dunia, terutama dari negara-negara Muslim.

Samuel Paty, seorang guru sejarah di Prancis, disebut menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya pada Oktober tahun lalu. Dia juga dikatakan menyuruh para siswa Muslim untuk keluar dari kelasnya saat itu.


Informasi soal memperlihatkan karikatur Nabi tersebut membuat Patty meregang nyawa di tangan Abdullakh Anzorov. Namun, belakangan diketahui insiden tersebut terjadi atas kebohongan siswi Z yang takut dengan ayahnya.

Informasi ini juga minimbulkan kehebohan dari dunia Muslim, apalagi Presiden Prancis Emmanuel Macron membela dengan dalih 'kebebasan ekspresi'. Ini sempat membuat Macron melontarkan sejumlah pendapat yang dianggap menghina dunia Islam sehingga produk Prancis diboikot di sejumlah negara.

Lalu bagaimana kebohongan terjadi? Berikut deretan fakta terbaru terkait dengan insiden mengerikan yang memicu protes di publik Prancis, sebagaimana dilansir dari The Guardian.

1. Diskors karena bolos

Awalnya siswi Z tersebut sedang menjalani skorsing dari sekolahnya, sekolah menengah Conflans-Sainte-Honorine. Skorsing dilakukan usai dirinya kerap membolos.

Di hadapan hakim anti-teroris, siswi Z mengatakan ia mengarang cerita dan membawa nama Paty untuk menyembunyikan fakta sebenarnya terkait skorsing kepada ayahnya. Ia melakukan hal tersebut karena takut ayahnya marah.

2. Tak masuk kelas Paty

Karena di skorsing akibat kerap membolos, siswi Z tersebut tidak mengetahui secara persis apa yang dilakukan Paty saat membahas tema 'dilema' dalam kelasnya. Ia mengaku tidak berada di dalam kelas saat Paty menunjukkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad dari surat kabar satir Charlie Hebdo kepada siswanya.

Laporan media Prancis, Le Parisien, mengungkapkan secara detail kebohongan siswa itu. Diketahui Paty juga tidak meminta para siswa Muslim untuk keluar kelas saat dirinya menunjukkan karikatur kontroversial Nabi Muhammad.

Siswi Z itu mengarang cerita bahwa Paty meminta para siswa Muslim di dalam kelasnya untuk menutup mata mereka. Ia juga mengarang cerita soal siswa diminta berdiri sebentar di koridor.

3. Siswi Z derita inferiority complex

Para penyidik menyebut siswi itu menderita 'inferiority complex'. Ini membuatnya sangat menghormati ayahnya.

Menurut ilmu psikologi, inferiority complex adalah sebuah kondisi psikologis di tingkat alam bawah sadar saat suatu pihak merasa inferior, lemah, atau lebih rendah dibanding pihak lain. Kondisi ini timbul juga saat seseorang merasa tidak mencukupi suatu standar dalam sebuah sistem.

"Jika saya tidak mengatakan itu kepada ayah saya, semua ini tidak akan terjadi dan tidak akan menyebar dengan begitu cepat," ucap siswi Z itu kepada hakim anti-teroris setempat, seperti dilansir media Prancis lainnya, RFI.

4. Anak dan ayah didakwa atas fitnah dan terlibat pembunuhan

Akibat kesaksian bohongnya, siswi Z kini didakwa melontarkan fitnah. Ayahnya, Brahim Chnina, juga didakwa terlibat dalam pembunuhan teroris.

Dalam argumennya, pengacara siswi itu Mbeko Tabula, bersikeras bahwa beban berat tragedi ini tidak boleh hanya diarahkan pada kliennya yang berusia 13 tahun. Ayahnya-pun bersalah.

"Perilaku ayahnya yang berlebihan, membuat dan memposting video yang memberatkan sang profesor (Paty) yang menyebabkan peristiwa spiral ini," cetusnya.

"Klien saya berbohong, tapi meskipun itu benar, reaksi ayahnya masih tidak proporsional."

Ayah siswa Z, Chnina dikabarkan langsung bereaksi berlebihan setelah mendengar informasi dari anaknya. Ia langsung memosting kebohongan tersebut di media sosial, hingga dilihat oleh Anzorov .

Ini-lah yang kemudian berakhir dengan pemenggalan Paty. Kepada polisi setempat, Chnina dilaporkan menyebut dirinya idiot dan bodoh.

"Saya tidak pernah mengira pesan saya akan dilihat oleh teroris. Saya tidak ingin menyakiti siapapun dengan pesan itu. Sulit membayangkan bagaimana kita sampai di sini, bahwa kita kehilangan seorang profesor sejarah dan semua orang menyalahkan saya," ucapnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Heboh Presiden Prancis Macron 'Serang Islam', Lukai Muslim


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading