Internasional

Prancis Warning Warga Hati-hati di RI, Ada Apa?

News - sef, CNBC Indonesia
28 October 2020 07:48
Prancis perpanjang masa Lockdown. (AP/Laurent Cipriani)

Jakarta, CNBC IndonesiaPrancis memperingatkan warganya di beberapa negara mayoritas muslim hati-hati. Ini merupakan tindakan pencegahan menyusul meningkatnya kemarahan atas dipublikasikannya kembali kartun Nabi dan pernyataan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Di Bangladesh misalnya, ribuan orang berunjuk rasa dan menginjak poster pemimpin Prancis itu. Sementara di Iran, diplomat setempat dipanggil untuk melayangkan protes soal kartun yang kembali dihadirkan ke publik.



Bahkan sejumlah negara Arab melakukan boikot produk seperti Kuwait dan Qatar. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga menyerukan jangan membeli barang Negeri Menara Eiffel.

Kementerian Luar Negeri Prancis mengeluarkan 'nasihat keselamatan' Selasa (27/10/2020). Warga yang berada di Turki, Irak, Bangladesh, Mauritania termasuk Indonesia diminta hati-hati.



Mereka diminta menjauh dari protes apapun atas kartun tersebut. Termasuk, menghindari pertemuan publik.

"Direkomendasikan untuk melakukan kewaspadaan terbesar, terutama saat bepergian, dan di tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan atau komunitas ekspatriat," katanya. pengumuman itu, dikutip Reuters, Rabu (28/10/2020).

Sebelumnya, seorang guru sejarah dan geografi di sebuah sekolah pinggiran di kota Paris, bernama Samuel Paty (47 tahun) menunjukkan karikatur tokoh panutan umat Islam Nabi Muhammad SAW dalam kelas pada 6 Oktober lalu.

Sepuluh hari berselang, kejadian buruk menimpa Paty. Seorang remaja kelahiran Rusia bersuku Chechen membunuhnya.

Hal ini membuat publik gempar. Tak disangka pelajaran yang ditujukan berbuntut pada kejadian tragis dan menimbulkan perpecahan serta keresahan di masyarakat.

Kemarahan umat Islam menyeruak ke permukaan setelah Presiden Prancis Emanuel Macron mengatakan tak akan menarik karikatur tersebut. Bagi umat muslim potret Nabi adalah hal yang tabu.

Karya karikatur Nabi Muhammad dianggap sebagai bentuk penghinaan dan serangan terhadap umat Islam. Prancis yang beraliran sekuler pun mendapat protes keras dari banyak pihak terutama komunitas muslim dan para pemimpinnya.

Meski begitu, Macron mengatakan tak akan menyerah pada berbagai aksi protes.




Macron telah memicu kontroversi sejak awal September. Saat itu, ia mengajukan UU untuk 'separatisme Islam' di Prancis.

Macron sempat berujar bahwa 'Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia'. Karenanya pemerintahnya akan mengajukan rancangan undang-undang pada bulan Desember untuk memperkuat undang-undang tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Pemerintah RI

Sementara itu, belum ada komentar dari Kementerian Luar Negeri RI soal ini. Kemarin, RI menyampaikan sikap atas polemik yang ditimbulkan atas kontroversi yang kini tengah terjadi.

"Pertama, Kemlu telah memanggil Duta Besar Prancis pada hari ini. Kedua, dalam pertemuan tersebut Kemlu menyampaikan kecaman terhadap pernyataan Presiden Prancis yang menghina agama Islam," katanya seperti dikutip detik.com.

Pemanggilan terhadap Dubes Prancis untuk RI, Olivier Chambard dilakukan sore tadi. Namun demikian, menurut Faizasyah, Olivier belum memberikan respons terhadap ini.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading