Internasional

Awas 'Bumi Gonjang Ganjing', Trump Tegaskan Nyapres 2024

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
01 March 2021 07:37
President Donald Trump waves to a handful of supporters as he arrives with first lady Melania Trump at Palm Beach International Airport in West Palm Beach, Fla., Wednesday, Jan. 20, 2021. (Joe Cavaretta/South Florida Sun-Sentinel via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada hari Minggu (28/2/2021) mengisyaratkan kemungkinan mencalonkan diri sebagai lagi. Hal ini dilaporkan sejumlah media ketika mengabarkan kemunculan perdananya pasca lengser dalam pidato Konferensi Politik Konservatif (CPAC) di Orlando, Florida.

Ia menyebut bahwa dirinya dapat mencalonkan diri lagi sebagai presiden empat tahun mendatang, 2024. Seraya menegaskan kembali kekalahannya dalam Pemilu November 2020 adalah sebuah kecurangan.


"Sebenarnya, Anda tahu mereka (Demokrat) baru saja kehilangan Gedung Putih," kata Trump, dikutip dari AFP, Senin (1/3/2021).

"Tapi siapa yang tahu, siapa yang tahu? ... Saya bahkan mungkin bisa mengalahkan mereka untuk ketiga kalinya (di Pemilu)," tegasnya meledak-ledak.

Sejak akun Twitternya diblokir, Trump memang tak pernah lagi berkomentar seperti selama empat tahun ia menjabat. Trump meninggalkan Gedung Putih 20 Januari lalu ke resor Mar-a-Lago Florida, saat Joe Biden resmi dilantik.

"Perjalanan luar biasa yang kita mulai bersama ... masih jauh dari selesai," kata Trump pada loyalis-nya yang disambut dengan tepuk tangan. "Dan pada akhirnya, kita akan menang."

Sementara itu 'perang saudara' telah meletus di dalam Partai Republik AS. Nyaring isu beredar menyebut Trump akan membuat partai baru dan meninggalkan partai yang mengusungnya 2018 dan 2020 itu.

"Saya tidak memulai pesta baru," kata Trump menepis rumor. "Kami memiliki Partai Republik. Partai itu akan bersatu dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."

Di kesempatan sama, Trump tak lupa mengecam Biden. Ia mengatakan Biden telah membawa bencana selama sebulan menjabat, jika dilihat dari presiden AS manapun.

"Keamanan kami, kemakmuran kami dan identitas kami sebagai orang Amerika dipertaruhkan," katanya.

Ia menyebut Biden membuat warga AS terpecah belah. Termasuk mengkritik kebijakan energi dan imigrasinya.

Sebelumnya di bawah kepemimpinan Trump, AS mengkampanyekan 'America First'. Ini membuat sejumlah negara bersitegang dengan AS, termasuk China, Eropa dan Kanada.

Dengan China AS berseteru soal perang dagang, dengan saling serang tarif ekspor-impor, lalu teknologi, termasuk sejumlah isu HAM seperti Hong Kong, Xin Jiang, termasuk Laut China Selatan (LCS). Dengan Eropa, AS terjebak adu tarif dan sanksi termasuk soal Airbus, begitu pula dengan Kanada.

'Kegaduhan' juga terjadi di dalam negeri saat Trump kalah pemilu 6 Januari lalu. Massa pendukungnya menyerang gedung kongres AS, The Capitol, yang berbuntut pada sejumlah korban tewas dan proses pemakzulan kedua Trump.

Sementara itu, Gedung Putih sendiri memilih untuk mengabaikan pernyataan Trump itu. "Fokus kami tentu saja bukan pada apa yang dikatakan Presiden Trump," ujar juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan kepada wartawan.

Jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan bahwa Biden memiliki tingkat kepuasan publik di atas 50%. Hal ini tentu saja merupakan prestasi yang kuat bagi seorang Presiden AS.

Bila angka tersebut bertahan, Biden dipastikan dapat memenangkan pemilu kembali. Apalagi jika ia mencalonkan diri pada 2024 mendatang.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading