Internasional

Digempur AS-India, Anggaran Militer China 2021 Mau 'Meledak'

News - Tahir Saleh, CNBC Indonesia
01 March 2021 07:20
General Robert Brown, commanding general of the U.S. Army Pacific and China's People's Liberation Army (PLA) Lieutenant General Qin Weijiang attend a news conference of an exercise of

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah dampak pandemi (corona) Covid-19 selama setahun terakhir, banyak analis dan pengamat militer China percaya bahwa anggaran pertahanan negara komunis tersebut akan terus meningkat tahun ini. Bahkan, lebih tinggi dari tahun 2020.

Kenaikan anggaran militer itu diprediksi lantaran pertumbuhan ekonomi China yang positif. Termasuk ancaman militer yang dihadapi China dan kebutuhan Negeri Panda untuk mengembangkan kapasitas pertahanan nasionalnya.


Para ekonom dan pakar fiskal, dilansir Global Times, sempat memperkirakan negeri dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu akan mengurangi pengeluaran secara besar-besaran pada tahun ini karena pengetatan anggaran. Ini terjadi setelah mengalami defisit anggaran yang rekor sebesar 3,6% dari PDB (produk domestik bruto) di tahun lalu akibat pandemi.

Ekonom menilai, perekonomian China mulai memimpin pemulihan secara global dalam upaya bangkit dari kejatuhan ekonomi akibat dihantam Covid-19. Beberapa ahli memprediksi tingkat pertumbuhan ekonomi China bisa tumbuh sekitar 7% tahun ini.

Sebagai catatan, pada 18 Januari lalu, China sudah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi untuk kuartal keempat 2020. Hasilnya pun di luar dugaan. Survei yang dilakukan Reuters menunjukkan bahwa ekonomi China diramal tumbuh 6,1% (yoy, year on year).

Namun kenyataannya China tumbuh lebih tinggi. Pada kuartal terakhir tahun 2020, PDB China mampu tumbuh 6,5% (yoy). Dengan begitu China mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif dalam tiga kuartal berturut-turut.

Anggaran Pertahanan

Pada Mei tahun lalu, ketika banyak dari dunia luar tidak yakin tentang situasi keuangan China setelah pukulan besar Covid-19, negara itu masih menetapkan target pertumbuhan anggaran pertahanan sebesar 6,6%. Ini turun dari target pertumbuhan di 2019 sebesar 7,5%.

Hal itu menghasilkan rancangan anggaran 1,268 triliun yuan atau US$ 196,44 miliar (setara dengan Rp 2.750 triliun, kurs Rp 14.000US$). Angka yang melampaui prediksi banyak orang.

Para analis menilai, tahun ini, ekonomi China sedang pulih dan akan memberikan momentum yang lebih kuat untuk pertumbuhan yang stabil dari anggaran pertahanan.

"China adalah satu-satunya negara besar yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi positif pada tahun 2020, dan 2021 akan menjadi lebih baik. Sehingga kemungkinan akan menikmati sedikit peningkatan dalam anggaran pertahanannya," kata Li Jie, seorang ahli militer yang berbasis di Beijing.

Mengomentari Li, Song Zhongping, seorang ahli militer Tiongkok dan komentator TV, juga memperkirakan tingkat pertumbuhan yang sedikit lebih cepat. Yakni sekitar 7%, dan setidaknya tidak jauh lebih lambat dari tahun lalu.

Namun, tren kenaikan ini akan bertepatan dengan spiral penurunan anggaran defisit pemerintah. Negara itu menetapkan target defisit anggaran setidaknya 3,6% dari PDB untuk tahun 2020 ketika ekonomi terpukul oleh virus corona.

Untuk menghidupkan kembali ekonomi dari pandemi ini, Mei tahun lalu China berencana menerbitkan obligasi khusus untuk pemulihan virus corona senilai 1 triliun yuan.

"Rekor defisit anggaran di tahun 2020 adalah dampak dari pengaturan darurat sebagai tanggapan terhadap pandemi, yang telah berjalan dengan sendirinya, dan inilah saatnya pemerintah merevisi defisit anggarannya sesuai dengan kebutuhan ekonomi secara normal," kata Lian Ping, Kepala Zhixin Investment Research Institute.

Dengan pertumbuhan PDB China yang menuju rebound yang kuat, pemerintah diperkirakan akan lebih fokus pada pencegahan risiko keuangan dan mengekang leverage secara makroekonomi.

Karenanya, total utang China secara persentase dari PDB kemungkinan akan turun sekitar 2 poin persentase pada tahun ini setelah melonjak 25 poin persentase tahun lalu, menurut Wang Tao, Kepala Ekonom China di UBS.

Dengan sebagian besar kebijakan pajak dan pemotongan biaya berakhir pada akhir 2020, rasio defisit fiskal terhadap PDB diperkirakan turun menjadi 3% atau bahkan lebih rendah tahun ini.

Halaman 2>>

'Dikepung' AS hingga India
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading