Ini 7 Cara Pemerintah Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
24 February 2021 13:35
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). (CNBC Indonesia/ Andrean Krtistianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) demi menekan emisi gas rumah kaca sebagai upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana mengatakan, setidaknya ada tujuh cara dalam menekan emisi gas rumah kaca di Tanah Air.

Pertama, terkait sektor transportasi. Dia mengatakan, Kementerian ESDM berupaya mempercepat program kendaraan listrik, dengan menyiapkan mulai dari kebutuhan hulunya. Selain itu, Kementerian ESDM juga menyiapkan dari sisi pengisian daya (charging) dengan membangun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).


"Terkait dengan infrastruktur kendaraan listrik, harus diatur dari sisi standar dan keselamatan, segala jenis kendaraan listrik bisa dicas dengan baik di setiap SPKLU-nya, bagaimana proses perizinan dan sertifikasi laik operasi," paparnya dalam diskusi 'Peran EBT untuk Mewujudkan Sustainable City di Indonesia', secara daring oleh bisnis.com, Rabu (24/02/2021).

Selain pengisian daya, disediakan juga Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU). Diharapkan, agar jenis baterai ini tidak terlalu banyak, sehingga bisa memudahkan dalam penukaran dan mencapai keekonomian.

Kedua, adalah sektor bangunan gedung. Perlu diperhatikan bagaimana membuat gedung menjadi hemat energi, namun tidak melupakan aspek kenyamanan. Dadan menyebut pihaknya sudah punya komunikasi yang baik dengan para pemangku kepentingan pengelolaan bangunan.

"Solusi terintegrasi untuk mengatasi masalah penghematan energi, perlindungan lingkungan, dan pengurangan emisi CO2," jelasnya.

Ketiga, adalah di sektor rumah tangga, yakni penggunaan peralatan yang hemat energi. Kaitannya dengan lampu dan AC, kata Dadan, dipastikan bahwa dilakukan standardisasi.

"Hal yang sama dilakukan untuk alat-alat rumah tangga yang lain," ujarnya.

Keempat, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap. PLTS Atap sudah banyak dilakukan baik dalam skala besar dan skala kecil.

Kelima, melalui bahan bakar berbasis non fosil yakni biofuel, seperti biodiesel maupun bio gasoline.

Keenam, melalui penerangan jalan umum (PJU).

Ketujuh, adalah pengolahan sampah. Mengolah sampah di sini tujuan utamanya adalah menekan jumlah sampahnya. Namun demikian, sampah juga bisa menghasilkan listrik.

Lebih lanjut dia mengatakan dalam Perjanjian Paris ditetapkan penurunan emisi tahun 2030 sekitar 880 juta ton CO2 di mana sektor ESDM mendapatkan jatah 314 juta ton penurunan CO2. Untuk mencapai ini, 75% akan dikontribusikan dari EBT dan sisanya dari energi bersih.

"Energi bersih yang tetap energi fosil misalnya pemanfaatan gas, karena secara emisi kan bagus. Atau dengan batu bara dengan teknologi terkini, sehingga dari sisi emisi juga lebih baik," ungkapnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading