Biodiesel Sumbang 35% ke Bauran Energi Terbarukan RI

News - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
17 February 2021 14:08
Menteri ESDM Ignasius Jonan melepas road test B30 di gedung KESDM, Jakarta, Kamis (13/6). B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. B30 akan menggantikan pemakaian BBM impor sebesar 55 juta barel. Menteri ESDM Ignasius Jonan didampingi Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar, me-launching Road Test Penggunaan Bahan Bakar B30 (campuran biodiesel 30% pada bahan bakar solar) pada kendaraan bermesin diesel. Launching Road Test B30 ditandai dengan pelepasan keberangkatan 3 unit truk dan 8 unit kendaraan penumpang berbahan bakar B30 yang masing-masing akan menempuh jarak 40 ribu dan 50 ribu kilometer. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23% pada 2025 mendatang. Namun sampai 2020 capaiannya baru separuhnya, yakni 11,5%.

Salah satu upaya pemerintah dalam mendorong target bauran energi baru terbarukan adalah melalui mandatori pemanfaatan biodiesel, di mana saat ini sudah mencapai biodiesel 30% atau B30. Peran biodiesel dalam bauran energi baru terbarukan pada 2020 ini berkontribusi sebesar 35%.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna.


"Peran dari biodiesel kurang lebih 35% dari capaian tersebut (bauran EBT 11,5% di 2020), itu berasal dari biodiesel. Dengan meningkatkan blending (pencampuran), diharapkan peran biodiesel bisa terus meningkat dalam pencapaian EBT," ungkapnya dalam webinar tentang energi baru terbarukan Pertamina, Rabu(17/02/2021).

Dia mengatakan, realisasi penyerapan Fatty Acid Methyl Esters (FAME) yang dicampurkan ke dalam solar sebesar 30% atau biodiesel 30% (B30) pada 2020 mencapai sebesar 8,4 juta kilo liter (kl). Pemanfaatan biodiesel selama 2020 ini menurutnya berdampak pada penghematan devisa sebesar US$ 2,64 miliar atau Rp 38,04 triliun.

Selain itu, ini juga meningkatkan nilai tambah dari minyak sawit mentah (CPO) Rp 10,36 triliun.

Dia mengatakan, pihaknya juga akan memperhatikan kualitas biodiesel ketika persentase pencampuran biodiesel ini ditingkatkan, sehingga bahan bakar yang digunakan bisa cocok dengan mesin yang digunakan.

Selain itu, kualitas infrastruktur berupa tangki penyimpanan juga diupayakan terus diperbaiki seiring dengan peningkatan persentase pencampuran biodiesel ini.

"Kita melakukan perbaikan dari spec biofuel-nya itu sendiri. Untuk pencampuran B30, ada beberapa parameter yang kemudian kita perketat," ujarnya.

Adapun insentif atau subsidi biodiesel pada 2020 lalu mencapai sebesar Rp 28 triliun.

"Hal ini dikarenakan harga dari bahan bakar minyak (BBM) yang rendah di tahun 2020, sehingga selisih Harga Indeks Pasar (HIP) dari biodiesel dan solar cukup tinggi," jelasnya.

Feby mengatakan biodiesel akan dikembangkan dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Petani-petani akan dilibatkan, misal saat ini saat ini perusahaan besar yang terlibat ke depan bisa dikembangkan koperasi-koperasi.

"Kita juga upaya perbaikan standar dan proses efisien, terkait dengan insentif karena saat ini untuk mengembangkan EBT, cost-nya jauh lebih mahal dan daya beli belum kuat, maka cost ditekan," paparnya.


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading