MARKET DATA
INTERNASIONAL

Klaim China di LCS Makan Korban, Eksplorasi Migas Malaysia

Andrean Kristianto,  CNBC Indonesia
27 November 2020 08:58
Klaim China di LCS Makan Korban, Eksplorasi Migas Malaysia
Foto: USS Ronald Reagan (CVN 76, depan) dan USS Nimitz (CVN 68, belakang) berlayar bersama dalam formasi, di Laut Cina Selatan, Senin, (6/7/2020). (Mass Communication Specialist 3rd Class Jason Tarleton/U.S. Navy via AP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi di Laut China Selatan (LCS) dikabarkan tengah memanas. Bukan antara China dan Amerika Serikat (AS), melainkan dengan Malaysia.

China dan Malaysia tegang soal eksplorasi hidrokarbon. Eksplorasi ini terkait pengeboran untuk mendapatkan minyak bumi dan gas alam.

Dikutip dari Anadolu Agency, pusat studi strategis dan internasional asal AS, Institut Transparansi Maritim Asia (AMTI), menyatakan bahwa sebuah kapal China "melecehkan" rig pengeboran di lepas pantai di Serawak, Malaysia pekan lalu.



"Kapal China Coast Guard [CCG] 5402 melecehkan rig pengeboran dan kapal pemasoknya yang beroperasi hanya 44 mil laut dari Negara Bagian Sarawak Malaysia pada 19 November," tulis laporan yang diterbitkan Rabu (25/11/2020), dikutip Jumat (27/11/2020).

"Malaysia mengerahkan kapal angkatan laut sebagai tanggapan, yang terus membuntuti 5402."



Menurut laporan tersebut, insiden terjadi setelah dua minggu ketegangan CCG dan Royal Malaysian Navy (RMN) di daerah tersebut. Laporan AMTI mengatakan kapal China itu berangkat dari provinsi Hainan China pada 30 Oktober.

"Kapal itu berhenti di pangkalan pulau buatan China di Subi dan Fiery Cross Reefs sebelum mengambil stasiun di Luconia Shoals di zona ekonomi eksklusif Malaysia pada 2 November," kata laporan itu.

"Kapal CCG telah mempertahankan kehadiran yang hampir konstan di daerah tersebut dalam beberapa tahun terakhir yang difasilitasi oleh pusat logistik terdekat di pulau-pulau Spratly yang disengketakan."

LCS merupakan jalur penting untuk sebagian besar pengiriman komersial dunia dengan beberapa negara terletak di bibir lautan itu, seperti Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Lautan itu diyakini sebagai lautan yang kaya hasil alam, terutama migas dan ikan.

China bersikukuh mengklaim sekitar 90% dari lautan itu dalam apa yang disebut sebagai "sembilan garis putus-putus" di mana mencakup area seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi (1,4 juta mil persegi). Klaim tersebut telah menimbulkan ketegangan politik dunia akan perang terbuka yang mungkin saja terjadi karena konflik teritorial ini.

Sejauh ini belum ada komentar resmi dari China dan Malaysia.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Awas RI LCS Panas, Tetangga Mulai Upgrade Rudal Tempur Laut


Most Popular
Features