RI Incar Ekspor Batu Bara ke China Capai 200 Juta Ton di 2021

News - Wilda Asmarini, CNBC Indonesia
26 November 2020 15:47
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) kemarin, Rabu (25/11/2020), baru saja menandatangani kesepakatan kerja sama dengan China Coal Transportation and Distribution Association (CCTDA) untuk meningkatkan ekspor batu bara dari Indonesia ke China.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia menjelaskan kesepakatan ekspor batu bara yang ditandatangani kemarin senilai US$ 1,46 miliar atau sekitar Rp 20,6 triliun itu ke depannya berpotensi semakin lebih besar lagi karena belum semua anggota APBI atau produsen tambang Indonesia menyepakatinya kemarin.

Bahkan, lanjutnya, pada 2021 ekspor batu bara RI ke China diharapkan mencapai sekitar 200 juta ton.


"Kami berharap bisa ekspor menuju 200 juta ton ke China pada 2021. Jadi, nilai yang disepakati kemarin sebenarnya belum riil dan berpotensi jauh lebih besar lagi. Ini baru awal, nanti ditindaklanjuti secara B to B (Business to Business)," tuturnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/11/2020).

Penandatanganan kerja sama antara APBI dengan CCTDA juga dihadiri oleh anggota APBI yang menjadi eksportir batu bara ke China yaitu Adaro, Bukit Asam, Kideco, Indo Tambangraya Megah, Multi Harapan Utama, Berau dan Toba Bara.

Namun demikian, lanjutnya, ke depannya kesepakatan ini akan berkembang tidak hanya dengan perusahaan yang hadir kemarin tersebut, namun juga bisa berkembang dengan perusahaan lainnya yang kemarin tidak sempat hadir seperti PT Bumi Resources Tbk yang merupakan produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data Refinitiv, China mengimpor batu bara dari Indonesia selama Januari hingga Oktober 2020 sebesar 86,88 juta ton, turun 24,5% dari 115,03 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Bila produsen batu bara RI menargetkan tahun depan bisa mendekati 200 juta ton, ini berarti terjadi peningkatan ekspor batu bara ke China hingga dua kali lipat.

Sebelumnya, Duta Besar Berkuasa Penuh Indonesia untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun yang mengikuti kegiatan penandatanganan kerja sama ini dari Provinsi Hainan Tiongkok menjelaskan bahwa berdasarkan data Kepabeanan China, total ekspor Indonesia ke China untuk produk batu bara, khususnya HS 2702, HS 2701 dan HS 2704, untuk periode Januari-September 2020 mencapai US$ 4,9 miliar, menurun dibandingkan dengan total ekspor dalam periode yang sama 2019 yang sebesar US$ 5,8 miliar.

Meski ditargetkan ada peningkatan volume ekspor batu bara ke China, namun dia memperkirakan dari sisi harga belum ada peningkatan signifikan karena kondisi pandemi Covid-19 kemungkinan masih menyebabkan permintaan batu bara dunia belum naik signifikan.

"Harga batu bara tahun depan sepertinya belum akan kembali normal seperti di 2019. Tapi paling tidak dengan adanya kesepakatan kerja sama ini ada yang bisa kita amankan untuk pangsa ekspor kita, apalagi kalau mereka ada kebijakan perketat impor," ujarnya.

Dia mengatakan, kesepakatan ini juga bentuk hubungan diplomatik antar kedua negara yang terus meningkat. Apalagi tahun ini merupakan tahun ke-70 hubungan diplomatik Indonesia-China.

Menurutnya, kesepakatan APBI dan CCTDA ini bermula dari inisiasi antarpemerintah (G to G), kemudian ditindaklanjuti oleh asosiasi batu bara dari kedua negara.

Ke depannya, selain dengan China, pihaknya berharap ada kerja sama serupa dengan negara lainnya seperti India dan Vietnam yang kini juga mulai ada pembicaraan lebih intens dengan pemerintah setempat.

Seperti diketahui, kerja sama yang ditandatangani oleh Ketua Umum APBI Pandu Patria Sjahrir dan mitranya dari CCTDA Liang Jia Kun bersepakat untuk pembelian kontrak batu bara untuk tahun 2021, serta berkomitmen untuk mengimplementasikan isi kontrak tersebut.

"Jangka waktu kerja sama ini sendiri berlangsung selama tiga tahun. Kesepakatan tersebut bernilai US$ 1,46 miliar atau senilai Rp 20,6 triliun," ungkap keterangan resmi APBI yang diterima CNBC Indonesia, Kamis (26/11/2020).


[Gambas:Video CNBC]

(wia)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading