Internasional

"Kami Seperti Tenggelam", Pilu Nakes AS karena Corona

News - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
25 November 2020 14:23
Ilustrasi situasi pandemi Corona di AS. (AP/Jeff Chiu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Meski kabar baik seiring efektivitas vaksin datang, pandemiĀ corona (Covid-19) masih saja menjadi momok buruk bagi petugas kesehatan. Para perawat dan dokter mulai tertatih-tatih dalam menangani pasien dikarenakan keterbatasan sumber daya.

Sementara pasien terus datang membanjiri fasilitas kesehatan. Selain itu sarana pendukung untuk penanganan pasien juga belum tersedia di setiap rumah sakit.

Di Kansas, Amerika Serikat (AS) misalnya, sebuah rumah sakit pedesaan Kearny County, mengalami pengalaman yang sangat tragis. Ini terjadi setelah seorang pria muda datang dengan kondisi sangat serius.


Miller, kepala petugas medis Kearny, yang merangkap sebagai petugas kesehatan daerah, menelepon ke rumah sakit yang lebih besar untuk mencari tempat tidur ICU. Dengan kasus yang melonjak di seluruh Kansas, katanya, dia tidak dapat menemukan satupun.

Pada saat sebuah tempat tidur dibuka di tempat lain keesokan harinya, pemuda itu hampir mati. Selama 45 menit penuh, Miller dan stafnya melakukan kompresi dada dalam upaya putus asa untuk menyelamatkannya.

Entah bagaimana, kata Miller, denyut nadi pasien pulih. Ia dikirim dengan ambulans ke fasilitas yang lebih besar sekitar 25 mil jauhnya.

Miller kemudian berdoa bersama keluarga lelaki itu. "Benar-benar keajaiban dia bisa selamat," kata Miller, dikutip dari Reuters, Rabu (24/11/2020).

Pandemi Covid-19 saat ini juga mulai mengancam pedesaan di Negeri Paman Sam. Menurut wawancara Reuters dengan lebih dari selusin tenaga media dan pejabat kesehatan masyarakat di wilayah rural negara, banyak rumah sakit sangat kekurangan tempat tidur, peralatan, dan staf klinis, termasuk spesialis dan perawat. Padahal ini sangat esensial dalam penanganan pasien.

Sementara itu per 19 November, dari data pelacakan setempat, North Dakota melaporkan rata-rata 1.769 kasus baru setiap hari per satu juta penduduk. South Dakota mencatat hampir 1.500 per satu juta penduduk, sementara Wisconsin dan Nebraska sekitar 1.200, dan Kansas hampir 1.000.

Bahkan di minggu terburuk New York di bulan April, dengan lockdown dan kepanikan melanda publik, negara bagian itu tidak pernah rata-rata menghitung lebih dari 500 kasus baru per satu juta populasi. Ini menjadi rekor yang tak pernah diduga.

Ilustrasi situasi pandemi Corona di AS. (AP/Jeff Chiu)Foto: Ilustrasi situasi pandemi Corona di AS. (AP/Jeff Chiu)
Ilustrasi situasi pandemi Corona di AS. (AP/Jeff Chiu)



Pejabat rumah sakit di Midwest mengatakan bahwa mereka mencapai 100% kapasitas. Sebagian besar telah mencoba untuk meningkatkan ketersediaan dengan mengganti sayap atau menjejalkan banyak pasien dalam satu ruangan, dan dengan meminta staf untuk bekerja lebih lama dan shift yang lebih sering.

Fasilitas seperti Kearny, yang dikenal sebagai rumah sakit "akses kritis", tidak dibuat untuk ini. Seringkali didanai dengan sedikit, mereka terutama memberikan perawatan dasar atau darurat bagi penduduk yang tinggal jauh dari pusat kesehatan yang lebih besar.

"Sekarang kami harus merencanakan untuk dapat merawat siapa saja yang datang," kata Miller, yang spesialisasinya adalah pengobatan keluarga.

Ketika kasus melonjak di banyak negara bagian dan kabupaten rural, pekerja medis mengatakan mereka sering menghadapi tantangan dalam meyakinkan pasien dan pemimpin lokal bahwa penyakit tersebut harus ditangani dengan serius. Ini bukan tipuan yang dilanggengkan politisi.

"Ada keterputusan dalam komunitas, di mana kami melihat orang-orang di bar dan restoran, atau merencanakan makan malam Thanksgiving," kata Dr. Kelly Cawcutt, seorang dokter penyakit menular di University of Nebraska Medical Center.

"Kami merasa sedih".

Secara keseluruhan, Covid-19 telah merenggut lebih dari 256.000 nyawa di AS. Tingkat kematian virus telah menurun karena dokter telah mempelajari lebih lanjut tentang penyakit tersebut dan vaksin yang dikembangkan serta diyakini hadir Desember nanti.

Sementara itu, rumah sakit yang lebih kecil mengatakan mereka menggunakan obat yang sama seperti remdesivir dan deksametason, persis dengan yang dimiliki fasilitas kota besar. Tetapi masalahnya, mereka tidak memiliki akses yang sama ke peralatan ICU atau keahlian khusus.

Memasuki musim dingin, para petugas medis juga mulai pesimis. Suhu yang dingin dan libur panjang membuat para petugas itu kehilangan harapan.

"Menurut saya yang terburuk belum ada di sini," kata Miller.

Tak hanya jumlah dan resiko yang dihadapi petugas kesehatan, kelelahan fisik dan emosional terus-menerus juga harus dihadapi. Kepala perawat Hutchinson Regional, Amanda Hullet, menyuarakan hal tersebut.

Hullet mengenang kematian pasangan lokal Bill dan Judy Mason baru-baru ini, hanya beberapa minggu, akibat Covid-19. Judy telah mengajar tari di kota selama beberapa dekade, kata Hullet, dan murid-muridnya termasuk beberapa karyawan rumah sakit.

Namun dibalik hal yang menyedihkan itu, beberapa negara bagian masih saja belum mengharuskan penggunaan masker di ruang publik untuk mencegah penyebaran virus. Gubernur Nebraska Pete Ricketts, mengatakan dirinya tidak akan mengizinkan kotamadya untuk memaksakan mandat masker

"Saya menentang mandat berbasis luas yang mendukung mendidik orang tentang cara menggunakan masker," kata kantor Ricketts.

"Masker berfungsi, tapi itu hanya satu alat," ujarnya mendesak orang untuk juga fokus menjaga jarak dan menghindari pertemuan besar.

Gubernur Dakota Selatan Kristi Noem juga telah menolak untuk mengamanatkan penggunaan masker. Ia tidak memberlakukan pembatasan pada bisnis atau pertemuan publik, dan menyerahkan itu pada "tanggung jawab individu."

Pada bulan Juli, ia menyelenggarakan perayaan Hari Kemerdekaan bersama Presiden AS Donald Trump di Mt. Rushmore. Saat itu mana kerumunan itu berdekatan dan banyak peserta yang tidak bermasker.

Dokter mengatakan mencoba mengubah perilaku seperti itu bisa terasa seperti tugas tanpa harapan. "Semua orang terus menjalani hidup mereka. Tetapi kami seperti merasa seperti tenggelam," kata Schwartz.

AS, dari data Worldometers, mencatat total 12,9 juta warga terinfeksi corona. Negeri itu menjadi negeri dengan kasus Covid-19 terbanyak di dunia.

Artikel Selanjutnya

Ada Apa dengan AS? Corona Makin Jadi, Tembus 50 Ribu Sehari


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading