Internasional

Heboh Teori Konspirasi Trump Kudeta Biden Libatkan Pentagon

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
13 November 2020 16:03
President Donald Trump participates in a Veterans Day wreath laying ceremony at the Tomb of the Unknown Soldier at Arlington National Cemetery in Arlington, Va., Wednesday, Nov. 11, 2020. (AP Photo/Patrick Semansky)

Jakarta, CNBC Indonesia -  Teori konspirasi mengenai kudeta petahana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada presiden terpilih Joe Biden menyeruak. Ada yang menganggap jika Trump kini sedang menyusun strategi untuk menggagalkan saingan politiknya itu melaju ke Gedung Putih.

Sebelumnya, pengusaha yang diusung Partai Republik itu memang terang-terangan tidak menerima hasil perhitungan cepat bahwa dirinya kalah dari Wakil Presiden Barrack Obama ini. Ia bahkan berulang kali mencuit "Pemilihan yang Dicurangi!".


Namun keluhan Trump dianggap tidak masuk akal. Sepanjang AS menggelar Pilpres, tidak ada satu pun petahana yang mencurigai kemenangan lawannya atau menolak menyerahkan kursi presiden.

Sejauh ini hanya Trump yang bersikap seperti itu. Namun mengapa teori ini muncul?

Hal ini terjadi pasca Trump memecat Mark Esper sebagai Menteri Pertahanan AS dan bos Pentagon awal pekan ini. Ia menggantinya dan mengisi Pentagon dengan para pengikutnya yang loyal.

Posisi Menteri Pertahanan kini dipimpin oleh Christopher Charles Miller. Ia, yang sebelumnya merupakan direktur National Counterterrorism Center, dicap sebagai loyalis Trump garis keras.

"Dalam 24 jam terakhir, Menteri Pertahanan, Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan dan Wakil Menteri Pertahanan untuk Intell telah dipecat... Mengapa?" tweet Alexander Vindman, pensiunan perwira militer dan mantan staf Gedung Putih yang dipecat setelah bersaksi melawan Trump selama pemakzulan 2019, dikutip dari AFP.

Alarm juga berbunyi ketika Jaksa Agung Trump, Bill Barr, memberi wewenang kepada jaksa federal untuk bergabung dengan pencarian Trump atas penyimpangan pilpres.

"(Barr) mengizinkan departemen untuk dipersenjatai untuk mencoba membatalkan hasil pemilihan ini," tulis mantan pengacara senior Pentagon Ryan Goodman dan Andrew Weissmann, yang merupakan bagian dari tim penasihat khusus yang menyelidiki hubungan Trump dengan Rusia, pada media The Washington Post.

Dalam skenario yang paling ekstrim, beberapa orang memperingatkan tentang kudeta di dalam Electoral College. Ini merupakan badan paling simbolis yang terdiri dari perwakilan yang dikirim dari setiap negara bagian untuk memilih presiden berdasarkan suara rakyat.

Selain itu, Menteri Luar Negeri MikePompeo juga menolak kemenangan Biden. Ia mengatakan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan masa jabatan Trump kedua.

"Akan ada transisi mulus ke pemerintahan Trump kedua," kata Pompeo dalam konferensi pers.

"Dunia harus yakin bahwa transisi yang diperlukan untuk memastikan bahwa Departemen Luar Negeri berfungsi hari ini ... dengan presiden yang menjabat pada 20 Januari satu menit setelah pelantikan akan berhasil."

Di sisi lain, ada teori yang berpendapat berbeda. Trump hanya tidak rela meninggalkan panggung, sebab ia senang menjadi pusat perhatian banyak orang, di mama ia mendapat 72 juta suara dan basis penggemar yang besar dan setia.

Selain memasang sirkus politik, Trump mungkin memiliki tujuan yang lebih pribadi: masa depan keuangan dan kariernya. Di usia 74 tahun, Trump memiliki basis data informasi pemilih yang sangat besar dan memiliki pilihan selain diam-diam mengatur perpustakaan kepresidenan.

Bahkan dalam email massal "Dana Pertahanan Pemilu Resmi" Trump dijelaskan jika sumbangan tidak hanya digunakan untuk memerangi "sayap kiri". Sebagian besar sedang diarahkan untuk melunasi utang kampanye Trump tahun 2020 atau bahkan meluncurkan kemungkinan pencalonan presiden baru pada tahun 2024.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading