Internasional

Biden Menang Presiden AS, Perang Dagang Masih Lanjut Saudara!

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
09 November 2020 15:54
FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump delivers his speech next to U.S. and Chinese flags as he and Chinese President Xi Jinping meet business leaders at the Great Hall of the People in Beijing, China, November 9, 2017. REUTERS/Damir Sagolj/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) memiliki presiden baru. Joe Biden menjadi presiden terpilih menggantikan petahana Donald Trump.

Lalu bagaimana ini akan mempengaruhi perang dagang antara AS dan China?




Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri menilai ketegangan antara kedua negara adidaya itu tidak akan mereda. Bahkan akan terus menyala.

"Karena kebangkitan China sering dianggap oleh AS menyalahi berbagai aturan-aturan yang ada. Di satu sisi AS sendiri memang tidak terlalu senang kalau ada power lain yang mendominasi," kata Yose melalui sambungan telepon kepada CNBC Indonesia, Senin (9/11/2020).



Selain itu, ketegangan antara AS-China juga tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga teknologi, keinginan mendominasi ekonomi, dan penguasaan kepada berbagai sumber daya alam. Maka hal ini yang akan membuat ketegangan kedua negara tidak akan terselesaikan atau mereda.

Namun Yose menggarisbawahi, meskipun ketegangan akan tetap ada, yang berbeda adalah cara yang digunakan Biden dalam melawan China. Cara Biden dikatakan akan sangat berbeda dengan Trump yang cenderung agitatif dan agresif, dan seringkali tidak mengikuti aturan.

"Kalau Joe Biden kemungkinan besar akan melakukannya dengan berbagai cara yang mungkin lebih elegan. Misalnya dengan cara melalui proses di Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), kemudian juga merubah WTO itu sendiri," ujarnya. "Dilakukan dengan cara-cara yang cenderung bukan mengancam, non-threatening."

Yose memaparkan, perbedaan cara yang digunakan antara Biden dan Trump akan menghasilkan dampak yang berbeda pula. Selama ini, kata Yose, cara yang dilakukan Trump seringkali memberikan ketidakpastian.

"Kalau dilakukan sesuai dengan prosedur, dengan pertimbangan, dan negosiasi yang transparan, ini tentunya akan mengurangi ketidakpastian dalam perekonomian dunia," tambahnya.

Hal senada juga dikatakan Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Andry Satrio. Bahkan, kata dia, akan meningkat.

"Kritik Biden terhadap Trump yang menandatangani perjanjian dagang fase pertama ternyata tetap tidak meningkatkan industri dan produksi di dalam negeri," kata Andry, dalam konferensi pers secara virtual.

"Dia [Biden] akan kerja sama dengan sekutu AS dan terapkan perang dagang kepada China."

Perang dagang antara AS dan China sudah terjadi sejak 2018, di mana Trump mengancam semua impor Beijing bernilai lebih dari US$ 500 miliar. Namun pada Januari 2020, kedua negara sempat menandatangani perjanjian damai Fase I.

Meski begitu, sejak corona (Covid-19) menjalar, AS di bawah Trump kembali menekan China. Beberapa kali, Trump berujar tak peduli lagi kelanjutan pembicaraan dagang.



(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading