Jika Biden Jadi Penunggu Baru Gedung Putih, Indonesia Untung?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
04 November 2020 12:02
Missouri Auditor and Democratic gubernatorial candidate Nicole Galloway speaks with voters outside a polling place Tuesday, Nov. 3, 2020, in St. Louis. Galloway is challenging incumbent Republican Gov. Mike Parson. (AP Photo/Jeff Roberson)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) tengah menggelar pesta demokrasi. Rakyat Negeri Paman Sam akan menentukan siapa pemimpin mereka untuk empat tahun ke depan.

Ada dua kandidat yaitu sang petahana Donald Trump (Partai Republik) dan Joseph 'Joe' Biden (Partai Demokrat). Sejauh ini, seperti hasil berbagai jajak pendapat, Biden lebih unggul.

Per pukul 10:21 WIB, sebenarnya suara untuk Trump lebih banyak yakni 38.896.428 berbanding 37.336.354. Namun AS menggunakan suara elektoral (electoral college) untuk menentukan pemenang, setiap negara bagian punya bobot masing-masing. Dalam hal suara elektoral, Biden unggul 131 berbanding 98.


pilpresSumber: Guardian

Kalau tidak ada kejutan, sepertinya Biden akan menjadi penunggu Gedung Putih yang baru. Tidak hanya itu, Partai Demokrat juga diperkirakan bisa menguasai legislatif. Blue Wave is coming, Demokrat memegang kendali di eksekutif dan legislatif.

Perbedaan lansekap politik di Negeri Adikuasa diperkirakan bakal melahirkan corak kebijakan yang berbeda. Salah satu perbedaan yang diperkirakan paling mencolok adalah hubungan AS dengan China.

Semasa pemerintahan Trump, Washington sangat keras terhadap Beijing. Tudingan kecurangan dagang, manipulasi mata uang, pencurian teknologi, pelanggaran hak atas kekayaan inteletual, dan sebagainya dilayangkan kepada negara komunis tersebut.

Namun yang paling menonjol tentu perang dagang AS vs China yang menjadi warna dominan dalam pemerintahan Trump. Eks taipan properti itu menilai hubungan dagang AS-China selama ini tidak adil, AS selalu mengalami defisit besar.

Pemerintahan Trump memberlakukan bea masuk bagi ribuan produk made in China untuk mengerem impor. Tidak terima, China pun membalas dengan kebijakan serupa. Hasilnya adalah perang dagang, yang memuncak pada 2018-2019. Ternyata sentimen ini masih dibawa Trump dalam pilpres 2020.

"Pilih saya dan Partai Republik untuk mewujudkan Impian Amerka! Dalam empat tahun ke depan, kita akan membuat AS sebagai kekuatan manufaktur utama dunia dan kita akan menghentikan ketergantungan terhadap China selamanya," cuit Trump di Twitter baru-baru ini.

AS Damai dengan China?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading