RI Tak Lagi Deflasi, Apakah Daya Beli Sudah Kembali? Belum!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
02 November 2020 12:17
Luasnya Penyebaran Virus corona di Indonesia Termasuk Kota Jakarta sangat berpengaruh terhadap omzet pendapatan para tukang jahit gaun pengantin di Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (28/7/20). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Bukan tanpa alasan, sepinya pelanggan akibat aturan Pemerintah dengan merumahkan hampir seluruh ASN, kebijakan yang wewajibkan setiap warga harus tetap berdiam diri dirumah jika tidak ada keperluan penting di luar rumah.    

Serta rasa takut warga beraktivitas di luar rumah menjadi faktor omzet penjahit di Mayestik terus menurun.

Aris salah satu penjahit di Mayestik mengatakan, hampir 4 bulan terakhir ini omzet pendapatannya menurun drastis akibat adanya pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia bahkan di Kota Jakarta sendiri.

Menurutnya, turunnya pendapatan para tukang jahit lantaran sepinya pelanggan yang datang akibat adanya pandemi ini.    

Aris mengatakan kebanyakan pelanggan yang dimiliki biasanya datang kalangan anak muda atau yang ungin menikah dengan mendesain baju pengantin yang di minginkan konsumen.

Namun dengan adanya peraturan pemerintah yang merumahkan hampir seluruh ASN dan kebijakan bagi warga untuk berdiam di rumah masing-masing secara langsung berdampak pada omzet penjualnnya.  

Aris mengaku, jika hari biasanya sebelum masuknya COVID-19 di Indonesia pendapatanya bisa mencapai Rp 30 juta hingga Rp 45 juta perbulan. Setelah masuknya COVID-19 pemasukan hanya 1,5 juta perbulan.

Pihak pengelola gedung berinisiatif memberikan keringanan berupa pembayaran ruko sewa sebedar 50% hingga waktu yang belum ditentukan. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah tiga bulan beruntun terjadi deflasi, akhirnya Indonesia mampu mencatatkan inflasi pada Oktober 2020. Namun bukan berarti daya beli rakyat sudah pulih, karena inflasi inti masih sangat rendah.

Pada Senin (2/11/2020), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terjadi inflasi 0,07% pada Oktober 2020 dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Ini menjadi inflasi bulanan pertama dalam tiga bulan terakhir.

Sementara inflasi tahun kalender masih di bawah 1%, tepatnya 0,95%. Kemudian inflasi tahunan (year-on-year/YoY) tercatat 1,44%.


"Sesudah tiga bulan berturut-turut deflasi, pada Oktober ini kita mengalami inflasi tipis. Inflasi umum 1,44% YoY, sedikit meningkat dibandingkan September yang 1,42% YoY. Kalau dibandingkan Oktober 2019, inflasi yang 1,44% ini tergolong sangat rendah," kata Suhariyanto, Kepala BPS.

Selain itu, Suhariyanto menggarisbawahi inflasi inti yang juga masih rendah. Pada Oktober 2020, inflasi inti tercatat 1,74% YoY. Lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 1,86% YoY, apalagi ketimbang Oktober 2019 yang lebih dari 3% YoY.

Inflasi inti kerap dijadikan indikator kekuatan daya beli. Sebab, inflasi inti berisi barang dan jasa yang harganya susah naik-turun atau persisten. Kalau harga barang dan jasa seperti ini sampai turun, maka tandanya permintaan alias daya beli masih sangat lemah.

Manufaktur Indonesia Masih "Tiarap'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading