Internasional

Heboh Macron Belum Kelar, Muncul Kartun Erdogan 'Cabul'

News - sef, CNBC Indonesia
28 October 2020 08:26
Turkish President Recep Tayyip Erdogan speaks to reporters before departing for a visit to Ukraine, in Istanbul, Monday, Feb. 3, 2020. Turkey hit targets in northern Syria, responding to shelling by Syrian government forces that killed at least four Turkish soldiers, the Turkish president said Monday. A Syrian war monitor said six Syrian troops were also killed.(Presidential Press Service via AP, Pool) Foto: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (Presidential Press Service via AP, Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kehebohan karena pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam masih terus bergulir. Sejumlah negara menyampaikan keberatan atas komentar pemimpin berusia 42 tahun itu.

Komentar Macron terkait dengan publikasi kartun Nabi Muhammad, tokoh suci dalam agama Islam, oleh salah satu media satire Prancis Charlie Hebdo. Pembunuhan terjadi ke seorang guru yang menunjukkan gambar tersebut di kelas dan Macron menyebut sang guru 'dibunuh karena kaum Islamis menginginkan masa depan kita'.



Ini menimbulkan kecaman dari pemimpin negara Muslim dan Arab. Boikot produk juga terjadi di sejumlah negara Timur Tengah.

Meski kehebohan belum selesai, Charlie Hebdo kini menerbitkan cover terbaru yang menampilkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di halaman depannya. Kartunnya tak kalah kontroversial, karena menampilkan sosok mirip Erdogan berperilaku cabul.



Di Twitter, kartun itu diterbitkan pagi dini hari, Rabu (28/10/2020). Karikatur itu menggambarkan kartun Erdogan menggenggam bir dan mengangkat rok seorang wanita berjilbab.

Sebelumnya Erdogan paling keras menyuarakan tentangan ke sikap Macron. Ia menyebut Macron butuh perawatan mental karena mendukung Islamophobia.

Ia juga mengatakan umat Islam kini diperlakukan seperti Yahudi saat Perang Dunia II. Termasuk menyerukan warga Turki jangan membeli produk Prancis. 

Meski begitu sejumlah pemimpin Eropa menilai Erdogan terlalu terlalu berlebihan. Kanselir Jerman Angela Merkel menyebutnya fitnah yang sama sekali tak bisa diterima karena mengaitkan ke PD II.

Hal senada juga dikatakan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte. Menurutnya komentar Erdogan bisa memperburuk hubungan Turki dengan Eropa.




[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Heboh Boikot Produk Prancis, dari Arab ke Negeri Erdogan


(sef/sef)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading