Belum Pasti, Pajak 0% Bisa Rusak Pasar Kendaraan Bermotor

News - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
03 October 2020 18:57
Pekerja memindahkan motor kedalam kontainer di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (20/2/2018). Menurut data AISI penjualan kendaraan roda dua pada Januari 2018 meningkat menjadi 482.537 unit dibanding Desember 2017 lalu yang hanya 415.996 unit dan juga pada Januari 2017 sebesar 473.879 unit. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan kendaraan roda dua motor di bulan Agustusdi pasar domestik maupun ekspor tercatat membaik dibanding bulan sebelumnya. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, penjualan motor masih terkontraksi.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mencatat total penjualan sepeda motor domestik bulan Agustus mencapai 317.107 unit, naik 24.902 unit atau 8,5% (mom) dibanding bulan sebelumnya.

Namun jika dibandingkan dengan Agustus 2019, volume penjualan masih terkontraksi 46,9% (yoy). Pasalnya di bulan ke delapan tahun lalu total penjualan motor domestik mencapai 596.887 unit.


Untuk periode delapan bulan pertama tahun ini, total motor terjual secara nasional mencapai 2.495.801 unit. Angka tersebut lebih rendah 42,6% dibanding periode yang sama tahun 2019 sebanyak 4.350.158 unit.

Itu artinya sudah jelas bahwa total penjualan motor tahun ini tak akan bisa menyamai level tahun lalu. Data AISI menunjukkan total penjualan motor nasional pada 2019 hampir mencapai 6,5 juta. 

Jika target tahun ini dipatok di angka yang sama dengan tahun lalu, maka penjualan motor harus mencapai 1 juta unit per bulannya, yang mana hal tersebut tentunya mustahil. 

Pada kondisi normal saja penjualan motor per bulannya hanya berkisar di angka 500 ribu - 600 ribu per bulan.

Melihat realita bahwa daya beli masyarakat yang tergerus selama pandemi berlangsung, konsumen yang cenderung fokus pada pemenuhan kebutuhan pokok serta lembaga keuangan seperti perbankan dan perusahaan pembiayaan yang karakteristiknya pro-cyclical maka jelas angka penjualan tahun lalu jelas mustahil tercapai.

Apabila melihat tren data yang ada maka skenario yang paling memungkinkan adalah penjualan motor untuk tahun ini terkontraksi 40% - 45% dibanding tahun lalu. 

Fenomena yang sama juga dihadapi untuk pasar ekspor. Volume penjualan sepeda motor ekspor RI bulan Agustus tercatat mencapai 74.233 unit, naik 30,1% (mom) dibanding bulan Juli yang hanya 57.070 unit.

Hanya saja, jika dibandingkan dengan bulan Agustus tahun lalu penjualan motor masih terkontraksi 8,9% (yoy) mengingat total penjualan ekspor Agustus 2019 berada di angka 81.497 unit.

Sepanjang periode Januari-Agustus 2020, total penjualan ekspor sepeda motor RI tercatat sebanyak 395.753 unit. Masih anjlok 23,9% (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 520.279 unit.

Pasar motor domestik memang jauh lebih besar daripada ekspor. Agar penjualan masih bisa terdongkrak di bulan September hingga Desember tentu akan sangat bergantung dari sentimen konsumen terutama terkait kondisi Covid-19 di dalam negeri dan daya belinya. 

Belakangan beredar wacana bahwa akan ada kebijakan pajak nol persen untuk mobil oleh pemerintah. Pelaku pasar dan masyarakat masih menanti kelanjutan dari wacana ini.

Jika kebijakan tersebut dirumuskan dan disahkan baik untuk mobil dan motor maka harapannya bisa mendongkrak penjualan kendaraan bermotor karena harganya turun. Namun hal tersebut masih dalam kajian Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan.

Kepala BKF Febrio Kacaribu menjelaskan, sampai saat ini pihaknya masih mengkalkulasi, apa dampak yang bisa terjadi jika pembebasan pajak pada pembelian mobil baru diterapkan.

Selain terhadap dampak ekonomi, Febrio mengaku pihaknya juga sedang menghitung seberapa besar kebijakan pembebasan pajak pembelian mobil ini bisa berdampak pada penjualan mobil itu sendiri.

"PPnBM mobil masih belum. Masih dihitung, kita lihat sudut pandanganya, berapa besar yang kita berikan. Lalu seberapa besar ini bisa dorong pembelian mobil lalu seberapa besar dampak ke menahan koreksi pertumbuhan PDB [Produk Domestik Bruto]," jelas Febrio dalam video conference, Kamis (1/10/2020).

"Kita masih terus pelajari, belum bisa umumkan. Kalau sudah selesai kita kaji, kita umumkan tentang itu," kata Febrio melanjutkan.

Sikap pemerintah ini tentu akan berdampak pada pasar, bila terlalu lama menunggu, pasar akan menunggu terus, sehingga menunda pembelian kendaraan bermotor mobil maupun sepeda motor. Artinya semakin tak ada kepastian, pasar justru akan rusak.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading