Internasional

Panas! AS-China Pecah 'Perang' di PBB

News - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
25 September 2020 11:50
U.S. President Donald Trump poses for a photo with China's President Xi Jinping before their bilateral meeting during the G20 leaders summit in Osaka, Japan, June 29, 2019. REUTERS/Kevin Lamarque

Jakarta, CNBC Indonesia - China mengamuk ke Amerika Serikat (AS) di pertemuan tingkat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-75 pada Kamis (24/9/2020) malam waktu setempat. Dalam Majelis Umum PBB itu, China mengatakan sudah cukup bagi AS menimbulkan masalah untuk negeri itu.

AS dan China memang berkonflik di banyak hal mulai dari perdagangan hingga teknologi. Termasuk mewabahnya virus corona (Covid-19), di mana Presiden AS Donald Trump menuding China bertanggung jawab.




"Saya harus mengatakan, cukup ya cukup! Anda telah menciptakan cukup banyak masalah bagi dunia," kata utusan China Zhang Jun pada pertemuan Dewan Keamanan yang dilakukan secara virtual dan dihadiri oleh beberapa kepala negara, diberitakan AFP.

"AS memiliki hampir tujuh juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 200.000 kematian saat ini. Dengan teknologi dan sistem medis paling canggih di dunia, mengapa AS ternyata memiliki kasus dan kematian yang paling banyak dikonfirmasi?".

In this photo provided by the United Nations, Secretary-General António Guterres speaks from the podium, center, during the 75th session of the United Nations General Assembly, Tuesday, Sept. 22, 2020, at U.N. headquarters in New York. The U.N.'s first virtual meeting of world leaders started Tuesday with pre-recorded speeches from some of the planet's biggest powers, kept at home by the coronavirus pandemic that will likely be a dominant theme at their video gathering this year. (Eskinder Debebe/UN via AP)Foto: AP/Eskinder Debebe
In this photo provided by the United Nations, Secretary-General António Guterres speaks from the podium, center, during the 75th session of the United Nations General Assembly, Tuesday, Sept. 22, 2020, at U.N. headquarters in New York. The U.N.'s first virtual meeting of world leaders started Tuesday with pre-recorded speeches from some of the planet's biggest powers, kept at home by the coronavirus pandemic that will likely be a dominant theme at their video gathering this year. (Eskinder Debebe/UN via AP)



Zhang Jun lebih lanjut mengatakan bahwa apa yang terjadi di AS saat ini sepenuhnya merupakan salah pemerintahnya. Pemerintah Donald Trump dikatakannya adalah yang bertanggung jawab.

"Jika seseorang harus dimintai pertanggungjawaban, itu pasti beberapa politisi AS sendiri ... AS harus memahami bahwa kekuatan besar harus berperilaku seperti kekuatan besar ... Amerika Serikat benar-benar terisolasi," ujarnya.



Dua hari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah melakukan pidato tahunannya di Majelis Umum PBB. Dalam kesempatan itu ia banyak menyerang China.

Trump menuntut agar dilakukan tindakan terhadap China karena menyebarkan wabah Covid-19 ke dunia. Bukan hanya Trump, duta besar AS untuk PBB juga mengeluarkan nada marah pada pidatonya.


"Anda tahu, kalian semua memalukan. Saya heran dan saya muak dengan isi diskusi hari ini," kata Duta Besar AS Kelly Craft saat membuka pidatonya di pertemuan tersebut.

"Saya sebenarnya sangat malu dengan Dewan ini - anggota Dewan yang mengambil kesempatan ini untuk fokus pada dendam politik daripada masalah kritis yang ada. Ya ampun."

Setelahnya Craft meninggalkan ruangan. Ia bahkan melewatkan pidato dari duta besar China.

Meski demikian kacau, Presiden China Xi Jinping tidak membalas Trump. Namun juru bicara Majelis Umum, Brenden Varma, mengatakan China telah meminta waktu untuk berbicara pada Selasa depan, di mana negara ini diperkirakan akan menyampaikan "balasan" untuk AS.

Sebelumnya, ketegangan antara AS-China yang mengarah ke 'perang dingin' dikhawatirkan banyak pihak. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan kepada 193 anggota Majelis Umum bahwa hal itu harus dihindari kedua negara karena itu sangat berbahaya.

"Dunia kita tidak mampu memiliki masa depan di mana dua ekonomi terbesar membelah dunia dengan sangat parah," katanya dikutip dari AFP.



"Risiko kesenjangan teknologi dan ekonomi pasti berubah menjadi perpecahan geo-strategis dan militer. Kita harus menghindari ini dengan cara apa pun."

Sementara itu Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta pemimpin dunia tidak membiarkan diri didominasi perebutan kekuasaan geopolitik antara AS dan China. Pemimpin Prancis itu juga menyerukan "konsensus baru modern" untuk mengatasi tantangan global.

"Dunia saat ini tidak dapat direduksi menjadi persaingan antara China dan AS, terlepas dari bobot global negara-negara besar ini," katanya dikutip dari France 24.








(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading